ARASYNEWS.com — Kementerian Pertahanan menghentikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Hal ini karena adanya insiden yang pasca meninggalnya lima peserta selama pelatihan di sejumlah lokasi.
Akan tetapi tidak semata-mata dihentikan, hanya saja konsep latsarmil dievaluasi
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memerintahkan evaluasi terhadap sistem pelatihan, mulai dari aspek kesehatan, materi pembelajaran, hingga mekanisme penanganan medis bagi peserta.
Ke depan, program itu diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dengan materi yang lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, kerja sama, wawasan kebangsaan, serta kesiapan mengelola koperasi, bukan lagi pelatihan yang bernuansa kemiliteran.
Sejumlah materi taktis seperti latihan menembak dipastikan dihapus, sementara porsi latihan fisik akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing peserta agar proses pendidikan berlangsung lebih aman dan minim risiko.
Selain itu, metode pembelajaran juga akan dibuat lebih adaptif dan edukatif dengan memperhatikan kondisi psikologis peserta, tanpa menghilangkan tujuan utama program untuk membentuk calon pengelola koperasi yang disiplin, tangguh, dan memiliki kemampuan manajerial.
Kepala Biro informasi pertahanan sekretariat jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyebut program pelatihan akan tetap diberikan dengan format yang baru.
“Program jadi pembekalan bela negara dan manajerial. Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi,” kata Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dikutip Rabu (1/7/2026).
Perubahan ini merupakan bagian dari evaluasi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, usai lima peserta latsarmil meninggal dunia.
“Durasinya tetap sama, tetapi ada penyesuaian program. Kegiatan fisik dan pelatihan terkait kemiliteran akan dikurangi, termasuk kegiatan menembak,” jelas Rico.
Rico menyebut Kemhan bakal memperhatikan kondisi kesehatan peserta agar pelatihan dapat berjalan aman dan tertib.
Kata dia, Kemhan tak dalam posisi menghentikan program secara sepihak. Terkait keberlanjutannya, Kemhan mengikuti keputusan dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas).
“Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi,” jelasnya.

Ramai-ramai mengkritik program latsarmil
Usai kasus peserta meninggal, Anggota Komisi | DPR, Tubagus Hasanuddin, mendorong agar latsarmil dihapus.
Kata dia, anggaran yang dialokasikan untuk latsarmil mencapai Rp45 juta per orang, maka anggaran yang bisa dihemat untuk 35.476 peserta sekitar Rp1,06 triliun. Menurutnya, pelatihan manajer koperasi seharusnya difokuskan pada aspek yang sesuai dengan tugas mereka, yakni manajerial, bukan militer.
Sejumiah pakar turut mengkritik. Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia (UI), Defny Holidin, menyebut bahwa TNI tak punya kewenangan dalam lingkup pelatihan manajerial.
Sementara itu, Dosen Hukum Tata Negara di STH Jentera, Bivitri Susanti, menilai ada kelalaian negara dalam kasus kematian ini.
[]