Kisah Dibalik Bukit Bulat yang Berdiri di Tengah-tengah Nagari Taram

ARASYNEWS.COM – Bukik Bulek (Bukit Bulat) Taram terletak di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, provinsi Sumatera Barat. Lokasinya berjarak 11,5 kilometer dari pusat Kota Payakumbuh. Untuk mencapainya dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat hingga lebih.

Berada ditengah-tengah nagari Taram, Bukik Bulek akan terlihat menjulang di balik pemukiman penduduk dan persawahan.

Dinamakan Bukik Bulek karena bentuknya yang hampir bulat dan di puncaknya agak sedikit lonjong. Sesuai dengan namanya, bukit ini membulat seperti sebuah tabung raksasa dengan kemiringan lereng hampir 90 derajat.

Selain karena bentuknya, Bukik Bulek juga dapat ditandai dari strukturnya yang terdiri dari batuan kars. Warnanya coklat kemerahan. Sebagian saja dari tubuh bukit itu yang ditumbuhi tanaman hijau. Selebihnya adalah batuan. Pada salah satu sisi bukit, terdapat struktur batuan mirip dengan manusia yang sedang duduk. Lengkap dengan kepala dan kakinya yang bersila

Bukit ini terlihat berdiri sendiri dan di bagian bawahnya dikelilingi rawa-rawa, kolam, sawah, dan juga ada aliran air yang kerap dimanfaatkan masyarakat untuk memancing dan bermain rakit. Sungguh indah bentang alam buatan Allah SWT ini.

Bukit ini ada batu besar dan memiliki ketinggian sekitar lebih dari 100 meter, tetapi belum ada yang pernah mengukur ketinggiannya. Mendaki bukit ini diperbolehkan, akan tetapi membutuhkan tenaga ekstra dan keberanian serta tekad yang kuat.

Yang menariknya dari bukit ini (dari keterangan masyarakat setempat) ada tanah lapang di puncaknya. Dimana, luasnya setengah lapangan sepakbola.

Dari cerita masyarakat, bukit di nagari Taram ini tersimpan sejumlah kisah legenda.

Menurut penuturan orang-orang tua di Taram, kata Taram sendiri berasal dari kata Tarandam atau terendam. Konon, dahulunya nagari Taram di genangi air. Di tengah-tengah perairan itu terdapat sebuah bukit berupa pulau kecil yang unik berbentuk bulat yang di namai bukik bulek.

Dari cerita masyarakat, Bukik Bulek itu utuhnya jauh lebih tinggi dari sekarang, kata nenek-nenek moyang dahulu, dulu sampai sejengkal dari langit.

Sebagian kisah mengatakan bahwa bukit itu adalah salah satu tambatan kapal Nabi Nuh dalam pelayaran mencari daratan pasca banjir bandang menutup bumi.

Disebutkan juga, Bukik Bulek menjadi lebih rendah setelah terjadi gempa besar. Akibat gempa itu, bukik Bulek patah jadi sembilan bagian. Setiap bagian menyebar di seluruh pelosok Taram.

Semasa nenek moyang orang Taram masih menganut kepercayaan sebelum Islam, mereka memahat sebuah patung dipinggir bukit Bulat/Bukit Gadang yang di namai Bukik Talio. Pada hari tertentu masyarakat yang menganut kepercayaan itu mengantarkan sesajian ke patung tersebut. Pada masa selanjutnya bukik talio berubah fungsi sebagai penambangan kapal saudagar-saudagar yang membawa barang dagangannya.

Ada cerita lainnya menurut kepercayaan beberapa orang tua di Taram, bukik Bulek ini juga menyimpan pintu rahasia yang mana di dalamnya terdapat kuda bersayap emas dan pada satu waktu pernah menampakkan diri di puncak bukit.

Bukik Bulek ini berada di tengah dua jorong yakni Parak Baru dan Tanjuang Ateh. Dan tak jauh dari bukit, terdapat bangunan ibadah berusia tua yakni Surau Taram. Dan pada tahun 2019, kawasan Bukik Bulek menjadi lokasi syuting film Buya Hamka. []

You May Also Like