ARASYNEWS.COM – Ada tiga benda pusaka milik Kerajaan Kesultanan Siak yang selama ini tersimpan dan didatangkan dari Museum Nasional di Jakarta ke Pekanbaru, yakni Mahkota, Pedang, dan Pin.
Tiga artefak ini nantinya akan dihadirkan ke publik dalam kegiatan Pekan Budaya Melayu pada 7-10 Agustus 2025.
Yang menariknya, mahkota ini dibalut emas yang memiliki berat sekitar 2 kilogram yang dahulunya pertama kali dipakai Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau yang lebih dikenal sebagai Raja Kecik.
Raja Kecik merupakan pendiri Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dimana Kerajaan Siak didirikan pada tahun 1723 M. Raja Kecik bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. Raja Kecik memiliki istri yang bernama Encik Pong. Kerajaan Siak yang didirikannya berpusat di Buantan pada saat ia memerintah kerajaan siak. Masa jabatannya hingga tahun 1746 M yang kemudian digantikan putranya Sultan Mahmud.
Raja Kecik dilahirkan pada saat ibunya dilarikan ke Singapura terus ke Jambi. Pada perjalanan itu Raja Kecik dilahirkan dan beliau dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Raja Kecik merupakan Putra dari Sultan Mahmud Syah II yang merupakan Sultan Johor yang terbunuh dan ibunya bernama Encik Pong. Raja Kecik merupakan saudara dari Yang Dipertuan Pagaruyung Raja Alam Indermasyah.

Mahkota Emas Kesultanan Siak
Mahkota ini hasil karya seni logam Melayu pada abad ke-18. Mahkota dibentuk oleh tradisi adat dan politik Minang yang menempatkan musyawarah yakni “kato mufakat” serta keseimbangan antara adat dan syarak sebagai pilar utama. Hadir di lingkungan istana yang sarat ilmu diplomasi, strategi perang, dan tata pemerintahan.
Artefak ini bukan sekadar benda pusaka kerajaan pesisir timur Sumatera, tapi sebagai lambang legitimasi yang berakar dalam darah Minangkabau, warisan seorang anak raja keturunan dari ranah Minang yang mengukir takdirnya di panggung besar dunia Melayu.
Dari rangkuman catatan sejarah, Raja Kecil ini berasal dari Pagaruyung (Batusangkar-Sumatera Barat). Di bawah bimbingan Puteri Jamilan, Raja Kecik menjadi pemimpin dengan visi jauh melampaui tanah kelahirannya memperbesar dan mengenalkan tanah Melayu hingga keluar negeri.
Memasuki usia dewasa, Raja Kecik pernah merantau ke Palembang, pernah ke pesisir timur Sumatera sebelum menyeberang ke Johor Malaysia. Di sana, ia mengklaim sebagai putra Sultan Mahmud Syah II yang terbunuh pada 1699 sebuah klaim yang diperkuat statusnya saat itu.
Pada 1718, ia berhasil menaklukkan Johor dan naik takhta sebagai Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Namun, konflik internal dan tekanan kekuatan Bugis membuat kekuasaannya rapuh, hingga pada 1722 ia terdesak mundur.
Ia tidak kembali ke Pagaruyung, tapi ia memilih membangun kekuasaan baru di tepi Sungai Siak, Buantan. Pada 1722 atau 1723, Kesultanan Siak Sri Indrapura lahir, membawa serta perpaduan adat Minangkabau dan tradisi Melayu pesisir. Ia menyandang gelar kebangsawanan seperti Datuk, Panglima, dan Orang Kaya. Mempertahankan prinsip “Baso jo Budi” dijadikan panduan diplomasi, dan sebagian prosesi pelantikan sultan meniru adat Pagaruyung.
Pengaruh Pagaruyung juga tercermin pada mahkota ini, motif ukiran yang penuh simbol, pemakaian emas murni, serta filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” sebagai dasar pemerintahan.
Setiap kali mahkota itu dihadirkan di muka publik, ia menjadi pengakuan terbuka bahwa Melayu Siak dan Minangkabau menjadi satu.
“Siak itu rantau, Pagaruyung itu asal, tak bisa dipisahkan”, dikutip dari Tuanku Umar, budayawan Minangkabau di Pekanbaru.
Meski Siak berdiri sebagai kerajaan merdeka, hubungan Siak dan Pagaruyung tetap erat pada masa itu. Pernikahan antarbangsawan, pertukaran pusaka, hingga kesamaan arsitektur istana membentuk jalur budaya yang tak pernah putus.
Sebagian pusaka Siak bahkan diyakini berasal langsung dari Pagaruyung yang dahulunya sebagai pertukaran hadiah, yang menjadi bukti konkret bahwa dua kerajaan ini memiliki hubungan yang erat.
Kehadiran mahkota Kesultanan Siak bukan hanya mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga mengajarkan bahwa sejarah Melayu Riau dan Minangkabau. Memahami Siak berarti memahami Pagaruyung, sebab keduanya adalah satu rangkaian kisah yang tak terpisahkan, menjadi satu kisah, satu darah, dan satu warisan.
[]
Sc. PDIKM Padang Panjang