ARASYNEWS.com — Saat ini ramai perbincangan dan pembahasan tentang “desil”. Bahkan angka ataupun nilai yang ditetapkan itu menjadi keraguan di banyak masyarakat. Hal ini karena dianggap tidak sesuai dengan kriteria kehidupan yang dialami.
Sementara itu, penetapan angka juga banyak menjadi pertanyaan dan kritik serta protes. Akan tetapi itu semua sulit untuk dilakukan karena keterbatasan yang dimiliki masyarakat akan penetapan yang telah ditetapkan pemerintah.
Oleh pemerintah, istilah desil kerap digunakan dalam mekanisme penyaluran bantuan sosial serta pembahasan kebijakan pemerintah yang menggunakan data sosial ekonomi, seperti wacana pembatasan penggunaan BBM Pertalite yang mengemuka akhir-akhir ini.
Sementara itu, “Misteri desil” dianggap sebagai salah satu yang viral di masyarakat yang merujuk pada fenomena perubahan atau ketidakakuratan angka desil (peringkat kesejahteraan) dalam sistem data pemerintah, yang menyebabkan bantuan sosial (bansos) atau beasiswa (seperti KIP Kuliah dan jalur afirmasi) tiba-tiba terhenti atau ditolak.
Banyak warga merasa mengalami “misteri” karena kondisi ekonomi riil mereka di lapangan dalam kehidupan sehari-hari tetap susah, namun dalam sistem otomatis pemerintah, angka desil mereka tiba-tiba melonjak naik atau dianggap sudah mampu.
Sementara itu, baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto mengakui masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan , namun Presiden mengaku heran mereka yang hidup di tengah kemiskinan itu masih bisa tersenyum. Hal ini disampaikan Prabowo saat meresmikan motor listrik nasional (Molinas) dan ekosistem pendukung di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).
“Rakyat kita masih banyak yang miskin. Yang luar biasa rakyat kita yang paling miskin pun masih bisa tersenyum. Mungkin bajunya hanya satu, satu setel. Rumahnya hanya gubuk, makanya saya tidak mengerti, masih bisa tersenyum,” kata Presiden.
Mengapa Disebut “Misteri”?
Desil adalah pembagian masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan, mulai dari kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga paling tinggi.
Secara umum, setiap desil mencakup sekitar 10 persen populasi yang menjadi dasar pemeringkatan. Semakin kecil angka desil, semakin rendah posisi kesejahteraannya. Sebaliknya, semakin besar angka desil, semakin tinggi posisi relatifnya.
Sistem data seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mengelompokkan penduduk menjadi 10 lapisan (Desil 1–10). Desil 1 adalah kelompok paling miskin, sementara desil 9-10 adalah yang kaya dan mampu berkecukupan.
“Misteri” lonjakan angka desil ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor tersembunyi berikut:
-Indikator Jejak Digital & Administrasi
Sistem mendeteksi kapasitas listrik rumah Anda mencapai/melebihi 1300 VA atau 2200 VA, yang otomatis dinilai sebagai keluarga mampu.
-Nama Tercatat pada Aset
Memiliki motor bekas atau tanah warisan yang namanya terdaftar atas NIK Anda akan dibaca oleh algoritma sebagai bentuk kemapanan ekonomi.
-Beban Pinjaman/Kredit
Sistem sering salah mengartikan data kredit. Orang yang berani mengambil pinjaman (meskipun sedang kesulitan finansial) dianggap sistem sebagai orang yang memiliki perputaran uang atau kapasitas ekonomi tinggi.
-Peminjaman KTP
Kebiasaan meminjamkan KTP kepada orang lain untuk pengajuan kredit atau cicilan membuat NIK Anda terdeteksi memiliki aktivitas keuangan yang besar.
-Perbedaan Pusat dan Daerah
Adanya perbedaan cara penghitungan dan waktu pembaruan data antara pemerintah pusat dan daerah membuat status desil seseorang tidak sinkron.
Pembagian Kelompok Desil oleh Pemerintah
Desil 1
Sangat Miskin / Miskin Ekstrem
Prioritas utama bansos (PKH, BPNT) & Jalur Afirmasi
Desil 2 – 4
Miskin & Rentan Miskin
Prioritas utama berbagai bantuan pemerintah
Desil 5
Menengah ke Bawah / Pas-pasan
Masih berpeluang mendapatkan bantuan tertentu (misal: PBI-JKN)
Desil 6 – 10
Menengah hingga Sangat Kaya
Dikategorikan mampu, tidak layak/tidak diprioritaskan menerima bansos
Solusi Memecahkan “Misteri Desil” Anda
Jika Anda merasa angka desil yang dapat tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya, Anda tidak perlu pasrah. Anda bisa melakukan sanggahan atau pemutakhiran data secara resmi melalui dua cara, yakni
- Melalui Kelurahan/Desa (Offline)
Datangi kantor desa atau kelurahan setempat melalui Kasie Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Laporkan perubahan kondisi sosial-ekonomi Anda membawa dokumen pendukung (SKTM, foto kondisi rumah, dll) agar pihak dinas sosial melakukan verifikasi lapangan (ground checking)
- Melalui Aplikasi Cek Bansos (Online)
-Unduh aplikasi resmi Cek Bansos milik Kemensos di Google Play Store.
-Buat akun baru menggunakan NIK, KTP asli, dan swafoto memegang KTP.
-Setelah akun aktif, masuk ke menu profil dan klik “Request Pembaruan Data” atau gunakan fitur usul-sanggah untuk meminta perhitungan ulang.
Untuk memantau secara mandiri, Anda juga bisa langsung mengecek status desil Anda saat ini tanpa perlu login melalui situs resmi Cek Bansos Kemensos menggunakan data NIK KTP Anda.
[]