International Tiger Day 2026, Pentingnya Konservasi Pelestarian Harimau dari Ancaman

ARASYNEWS.com — Hari Harimau Dunia (International Tiger Day) diperingati setiap tanggal 29 Juli untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya konservasi pelestarian harimau dari ancaman kepunahan.

Peringatan International Tiger Day pertama kali ditetapkan pada tahun 2010 melalui Tiger Summit di St. Petersburg, Rusia, sebagai upaya global untuk menghentikan penurunan populasi harimau yang terus terancam akibat perburuan liar, hilangnya habitat, dan konflik dengan manusia.

Harimau merupakan predator puncak yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Harimau memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan karena berada di posisi sebagai predator puncak dalam rantai makanan.

Keberadaan harimau membantu menjaga keseimbangan populasi satwa mangsa sekaligus mendukung kesehatan dan keberlanjutan ekosistem hutan. Karena itu, keberadaan harimau di alam liar juga menjadi salah satu indikator penting bagi kondisi ekosistem tempat mereka hidup.

Meski berbagai upaya konservasi telah dilakukan, populasi harimau liar di dunia masih menghadapi berbagai ancaman. Sebagian besar populasi harimau liar tersebar di 13 negara yang menjadi habitat alami spesies tersebut.

Ancaman terhadap keberlangsungan hidup harimau antara lain kehilangan dan fragmentasi habitat, perburuan liar, perdagangan ilegal satwa, konflik antara manusia dan satwa liar, serta dampak perubahan iklim.

Hari Harimau Sedunia ini menjadi momentum untuk mendorong aksi nyata, meningkatkan kepedulian masyarakat, dan memperkuat upaya perlindungan terhadap harimau serta habitat tempat mereka hidup.

Di Indonesia, khususnya Harimau Sumatera menjadi satu-satunya spesies harimau yang masih bertahan, sehingga perlindungannya menjadi tanggung jawab bersama.

Berbagai upaya melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus berupaya melakukan pelestarian satwa ini dari perburuan liar, konflik dengan manusia, hilangnya habitat akibat perambahan hutan. Tujuannya untuk menjaga populasi harimau dan ekosistemnya yang sehat, serta mempromosikan sistem global untuk melindungi habitat alami harimau dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu konservasi harimau.

Dalam data yang dikutip dari BKSDA, jumlah Harimau Sumatera di alam liar saat ini diperkirakan tersisa kurang dari 600 individu. Subspesies kucing besar endemik ini berstatus Kritis (Critically Endangered) berdasarkan data IUCN Red List.

Mereka bertahan hidup di kantong-kantong hutan di pulau Sumatera. Tersebar di lanskap penting seperti Ekosistem Leuser (Aceh dan Sumatera Utara) serta bentang alam Kerinci Seblat (Sumatera Barat dan Jambi), di wilayah pesisir Barat Pulau Sumatera, dan hutan di Riau.

Konflik dengan manusia masih terus terjadi di berbagai daerah di Sumatera.
Yang salah satunya akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan atau lahan industri yang mempersempit ruang jelajah mereka.

Sementara itu, harimau yang saat ini berada di kebun binatang menjadi perhatian. Berbagai upaya untuk kesehatan dan pakan satwa serta vitamin terus diberikan untuk menghindari dari kepunahan.

Disisi lain, baru-baru ini beredar penampakan foto harimau yang kiris di Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan viral. Hanya saja, disebutkan bahwa itu merupakan dokumentasi lama tahun 2009/2013 (seperti harimau Melani). Manajemen KBS memastikan seluruh harimau dan satwa lain kini dirawat dengan baik dan sehat.

Diklaim bahwa foto harimau kurus yang beredar adalah arsip lama dari masa lalu. Harimau dalam foto tersebut pernah mengalami gangguan pencernaan dan telah mati bertahun-tahun lalu. Dan foto itu sengaja diunggah ulang di tengah isu kasus hukum dugaan korupsi manajemen lama yang kini tengah diproses.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like