ARASYNEWS.com — Banuhampu adalah salah satu nagari tua dan wilayah kecamatan yang termasuk dalam kawasan Luhak Agam (Luhak Nan Tangah) di Provinsi Sumatra Barat. Berdasarkan tambo Minangkabau, Banuhampu lahir pada periode kedua perkembangan awal pendirian Luhak Agam bersama wilayah seperti Lasi, Canduang, dan Kurai.
Di kecamatan Banuhampu ini terdapat tujuh nagari, yakni Pakan Sinayan, Padang Lua, Cingkariang, Ladang Laweh, Taluak IV Suku, Sungai Tanang dan Kubang Putiah.
Daerah Banuhampu terletak di kaki Gunung Singgalang dengan luas wilayah sekitar 28,45 kilometer persegi. Berbatasan langsung dengan kota Bukittinggi.
Wilayah ini asri yang berbukit, berhawa sejuk, dan terbagi menjadi beberapa nagari serta jorong yang menjunjung tinggi adat Minangkabau.
Daerah tua ini menjadi daerah pengembaraan untuk pengembangan ke daerah-daerah di sekitarnya, di mana mereka mendirikan nagari-nagari baru.

Menurut carito Tambo, telah datang ninik mamak sejumlah dua kali sembilan suku dari Pariangan Padang Panjang yang berhenti di Patamuan Gobah Balai Bagamba.
Mereka kemudian bersepakat bahwa ninik mamak sembilan suku yang pertama akan tinggal di Patamuan Gobah Balai Bagamba yang nantinya sebagai cikal bakal daerah Banuhampu yang terdiri dari lima nagari. Sedangkan ninik mamak sembilan suku yang kedua melanjutkan perjalanan ke arah utara dan berhenti di Gobah Balai Banyak yang nantinya sebagai cikal bakal Daerah Kurai Limo Jorong atau Bukittinggi sekarang ini.
Karena itulah tersebutlah dalam Tambo Kurai Banuhampu sebagai salah satu kembaran phratry kesatuan adat dari phratry lainnya yakni Kurai Banuhampu, Biaro Balai Gurah, Lambah Panampuang, Canduang Koto Laweh, Sariak Sungai Pua, Batagak Batu Palano, Sianok Koto Gadang dan Guguak Tabek Sarojo.
Dari penjelasan orang-orang terdahulu, bahwa Kubang Putiah merupakan asal-muasal dari nagari-nagari lain di Kecamatan Banuhampu. Pemberian nama nagari-nagari di lingkungan kecamatan ini pun dimusyawarahkan oleh seluruh masyarakat Banuhampu di Kubang Putiah, seperti Nagari Taluak, Nagari Cingkariang, Nagari Ladang Laweh, dan sebagainya.

Sedangkan nama Nagari Kubang Putiah bermula ketika ninik mamak akan mendirikan Balai Adat sebagai balai untuk kerapatan (Balairuang). Mereka memilih tempat di tengah-tengah kenagarian yang kebetulan di sana tumbuh sebatang Pohon Kubang yang bunganya berbentuk daun berwarna putih. Kampung di mana tempat berdirinya balai tersebut sampai kini masyhur juga disebut Balai, sedangkan Balai Adat yang sekarang berada tidak jauh dari tempat semula.
Berdasarkan informasi, Nagari dimulai dari Kubang Putiah pada akhir tahun 1800-an yang dipimpin oleh Angku Palo. Jabatan Angku Palo ini biasanya diwariskan secara turun temurun, seperti dari ayah kepada anak ataupun dari mamak ke kemenakan.
Ketika masa darurat Belanda, Angku Palo kemudian berubah menjadi Wali Nagari. Pemilihan Wali Nagari dilakukan secara musyawarah dan kesepakatan oleh alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, niniak mamak, pemuda, dan bundo kanduang.
Pada musyawarah tersebut disepakatilah nama seseorang yang akan ditunjuk dan diberi kepercayaan sebagai wali nagari serta dimintalah persetujuannya. Jika orang tersebut menolak, maka akan dimusyawarahkan nama berikutnya yang ditunjuk dan dimintai persetujuannya lagi. Begitulah seterusnya sampai yang bersangkutan menerima untuk ditunjuk sebagai wali nagari. Namun biasanya seseorang yang telah ditunjuk tadi tidak ada yang menolak karena telah melewati tahap pendekatan dan lobi oleh peserta musyawarah.

Di wilayah inilah yang menjadi titik awal musyawarah untuk nagari-nagari lain di sekitarnya.
Kubang Putiah merupakan tempat kelahiran salah seorang tokoh nasional, politikus dan pejuang kemerdekaan Indonesia yaitu Mr Assaat, yang merupakan pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia (RIS) di Yogyakarta.

Pohon Kubang (Macaranga gigantea)
Nama Kubang Putiah disebut berasal dari sejarah tumbuhnya Pohon Kubang yang memiliki ciri khas bunga atau daun berwarna putih di tengah wilayah Kecamatan Banuhampu, Agam.
Dulu para ninik mamak ingin membuat Balai Adat. Mereka mencari tempat di tengah kampung. Di tempat itu, tumbuh pohon kubang dengan warna putih.
Karena pohon unik tersebutlah kampung dan nagari ini dinamakan Kubang Putiah.
Pohon ini tinggi batangnya bisa mencapai 40 meter, bagus digunakan sebagai papan. Getahnya berwarna hitam kecoklatan, cepat mengering jika terkena udara dan dimanfaatkan sebagai perekat. Kulit akarnya bisa dipergunakan sebagai obat. Sementara daunnya yang besar dipergunakan sebagai pembungkus makanan.
[]