Bola Api Menjadi Alat Permainan

ARASYNEWS.com — Permainan bola api di Indonesia adalah olahraga tradisional ekstrem yang menggunakan bola dari sabut atau batok kelapa tua yang kering kemudian direndam minyak tanah selama satu hingga beberapa hari agar apinya bertahan lama selama pertandingan. Kemudian dimainkan dengan cara bola tersebut dibakar.

Tradisi ini tersebar di berbagai wilayah dengan keunikan dan nilai filosofisnya masing-masing di tiap-tiap daerah. Menguji keberanian dan ketangkasan pemain tanpa alas kaki

Permainan ini populer sebagai atraksi budaya di berbagai pondok pesantren dan daerah di Indonesia.

Tradisi ini dipercaya sudah eksis sejak zaman kerajaan dahulu untuk hiburan dan kebersamaan. Bola api sering dimainkan oleh santri untuk mengisi malam di bulan Ramadhan atau menunggu waktu sahur.

Umumnya permainan ini dimainkan dua tim, mirip seperti futsal. Permainan ini menggunakan sistem mencetak gol atau memasukkan bola ke dalam gawang dengan cara ditendang. Waktu bermain biasanya berlangsung sangat cepat, sekitar lima belas menit.

Atraksi berbahaya ini tidak boleh ditiru oleh orang awam dan hanya dimainkan oleh pemain yang telah berlatih ilmu kanuragan, pencak silat, atau memiliki persiapan mental khusus agar tidak terluka.

Beberapa daerah di Indonesia yang memainkan bola api dan penamaannya

Sepak Bola Api

Permainan ini dimainkan tanpa alas kaki dengan aturan mirip sepak bola namun menggunakan tempurung kelapa yang menyala. Di Jawa dan Sumbawa tradisi ini sering muncul saat Ramadan atau menyambut Tahun Baru Hijriah.

Boles (Bola Leungeun Seuneu)

Di tanah Sunda telah diwariskan sejak zaman Pajajaran. Berbeda dengan sepak bola, permainan ini menyerupai bola tangan dan biasanya digabungkan dengan gerakan atraktif pencak silat.

Sepak Sawut (Kalimantan Tengah)

Merupakan warisan leluhur Suku Dayak. Bola api di sini dimainkan untuk menguji ketangkasan, nyali, serta sebagai wujud keberanian.

Laliang

Nama ini dikenal di Sumba, Sulawesi Barat dan Sumatera Barat. Dikenal sebagai permainan rakyat tradisional yang membutuhkan keahlian khusus di mana bola api diperebutkan menggunakan kaki maupun tangan layaknya penjaga gawang.

Sama halnya di daerah lain, permainan ini juga menggunakan bola yang terbuat dari batok kelapa kering dan direndam dalam minyak tanah sebelum dibakar. Olahraga ini sering dimainkan oleh kalangan santri di berbagai pondok pesantren untuk menyemarakkan acara keagamaan atau perayaan hari besar Islam.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like