Indro 45 Tahun, Gajah Jantan Penjaga Hutan Mati di TNTN

ARASYNEWS.com — Seekor gajah sumatera mati di Camp Elephant Flying Squad, SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Provinsi Riau.

Gajah jantan berusia 45 tahun yang diberi nama Indro itu mati pada Senin (29/6/2026) pukul 03.45 wib.

Sebelumnya ia sempat menjalani penanganan medis secara intensif.

Dalam informasi dari kepala balai, menyebutkan bahwa Indro yang berusia sekitar 45 tahun itu mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah melewati fase musth (masa peningkatan hormon reproduksi pada gajah jantan). Tim dokter hewan dan mahout juga telah melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk pemantauan intensif dan tindakan medis, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

“Tim medis telah memberikan penanganan maksimal, termasuk terapi infus dan tindakan resusitasi, nyawa Indro tidak berhasil diselamatkan,” kata kepala balai TNTN Heru Sutmantoro, Senin (29/6).

Dijelaskannya, Indro mengalami komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth, yakni periode puncak hormonal yang menyebabkan tingkat agresivitas tinggi pada gajah jantan. Selama masa perawatan, penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari Balai Besar KSDA Riau dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Indro bukan hanya sebagai satwa konservasi, tetapi juga penjaga hutan yang telah mengabdikan hidupnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Indro, kata dia, selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari Flying Squad TNTN dan berjasa dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar, serta mendukung upaya pelestarian satwa di Riau. Kepergiannya ini menjadi kehilangan besar bagi dunia konservasi, khususnya di wilayah TNTN.

“Kehilangan Gajah Indro adalah duka bagi ekosistem, kehilangan penjaga hutan yang telah mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun. Selamat jalan Gajah Indro,” kata kepala balai.

“Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi upaya konservasi Gajah Sumatera di Indonesia. Dedikasi dan jasanya akan selalu dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah konservasi di Tesso Nilo,” tukasnya.

Selanjutnya, tim melakukan nekropsi atau bedah bangkai untuk dilakukan pengecekan di laboratorium untuk menemukan penyebab pasti kematian

Pemeriksaan juga dengan menggunakan pendekatan Criminal Scientific Investigation (CSI) yang mengedepankan pembuktian ilmiah (scientific evidence), analisis forensik, dan metode investigasi berbasis hipotesis.

Tim medis juga melakukan pemeriksaan Visum luar bangkai Gajah, pengambilan sampel organ dalam, serta pemeriksaan bagian tubuh yang diperlukan.

Pendekatan ini bertujuan agar kesimpulan penyebab kematian berkorelasi antara barang bukti, hasil pemeriksaan ilmiah, keterangan saksi, serta analisis lingkungan kejadian.

Kegiatan ini sebagai tindak lanjut atas bangkai Gajah.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like