ARASYNEWS.com — Kemenangan telak bersejarah 6-0 Tim Nasional Kanada atas Qatar di ajang Piala Dunia 2026 harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Hal ini karena gelandang andalan Les Rouges, Ismael Kone, dipastikan absen hingga akhir turnamen setelah mengalami cedera patah tulang kaki kiri yang mengerikan.
Meski mengalami nasib tragis di panggung impiannya, gelandang berusia 24 tahun itu tetap tegar. Melalui akun Instagram pribadinya, Kone akhirnya buka suara dan membagikan pesan yang sangat menyentuh dengan landasan spiritual yang kuat.
Ia juga mengucapkan terima kasih yang mendalam atas dukungan para penggemar di seluruh dunia. Kepada rekan-rekan setimnya, Koné berjanji akan tetap mendukung mereka dari pinggir lapangan sebagai “asisten pelatih” dadakan.
“Allah tidak pernah mengecewakan saya. Sepanjang hidup saya tidak pernah sekali pun. Jadi kenapa pula saya meragukan-Nya sekarang. Terutama karena mengetahui bawa Ia Maha Mengetahui Maha Melihat segalanya, bahkan sebelum itu terjadi,” kata Kone.
“Ini adalah ujian bagi keimanan saya kepada-Nya dan bagi karakter saya,” lanjutnya.
“Apa yang kalian lakukan kemarin akan selalu membekas di hati saya selamanya. Saya akan segera kembali dan kita akan terus membuat lebih banyak kenangan bersama,” kata Kone.

Sebagaimana diketahui, Ismaël Koné (23 tahun) merupakan pemeluk agama Islam. Gelandang timnas Kanada ini dikenal sebagai seorang muslim yang taat dan sering menunjukkan sisi religiusitasnya, termasuk berserah diri kepada Allah melalui unggahan media sosial terkait perjalanan karier dan kehidupannya sebagai atlet profesional.
Dan dikutip dari @watfordfcofficial, dari hasil wawancara, Ismael Kone mengaku tenang dan kuat pasca musibah yang ia alami.
Ia tampak tegar dan terungkap ternyata ia selalu membawa Al-Qur’an kemanapun ia pergi dan terlebih dahulu membacanya sebelum pertandingan.
“Saya punya Alquran saya, saya selalu bawanya kemana-mana setiap perjalanan. Saya berusaha membaca satu dua halaman. Saya pikir itu penting sebelum bertanding. Memberikan energi positif,” ungkapnya.
“Jika saya kehilangan ini, bukan Al-Qur’an ini, tapi kehilangan iman, saya bisa menjadi orang yang kehilangan,” imbuhnya.
“Saya sangat berpegang pada agama. Saya selalu membawa ini kemana-mana. Jadi ini nomor satu sebenarnya bagi saya. Saya tak akan melupakan ini,” tukasnya.
[]