ARASYNEWS.COM — Di kabupaten Pasaman Barat banyak terdapat lokasi Ikan larangan. Salah satunya adalah di Lubuak Landua. Di sini masyarakat atau pengunjung bisa berenang bersama ikan-ikan di area aliran sungai.
Hanya saja ikan-ikan tersebut tidak boleh tangkap atau dimakan dikarenakan mitologi masyarakat Pasaman.
Masyarakat di sana percaya bahwa jika menangkap atau memakan ikan yang ada di sekitar surau akan mendapatkan nasib buruk berupa sakit atau musibah
Hingga kini kearifan lokal Ikan larangan dan mitologinya masih tetap dilestarikan oleh masyarakat sekitar.
Sementara itu di tepi sungai berdiri Surau yang didirikan oleh syekh Muhammad Basyir, seorang ulama tarekat Naqsyabandiyah.

Dari keterangan masyarakat, pada zaman dahulu, Buya lubuak landua mendirikan surau di lokasi sekitar tahun 1852.
Sejak itu, Buya mulai memelihara ikan-ikan garing di aliran sungai. ikan-ikan larangan itu terus dipelihara dan dirawat oleh Buya hingga tahun 1912. Buya meninggal dunia pada umur 122 tahun. Dan menjaga kelestarian ikan, masyarakat pun menyebut sebagai ikan larangan dan menjadikan kawasan ini sebagai wisata religi.
Lubuak Landua terletak di Kenagarian Lubuak Landua Aua Kuniang berjarak 9 kilometer arah barat simpang empat yang menjadi pusat Kabupaten Pasaman Barat.
Di aliran sungai yang berbatu ini, banyak terdapat lubuk-lubuk yang menjadi habitatnya ikan. Anak-anak bisa bermain dan berenang dengan ikan ini.
Bagi pengunjung yang datang, di kawasan ini juga terdapat homestay, area parkir yang cukup luas, dan juga rumah makan yang menyajikan berbagai macam kuliner khas.

Keberadaan ikan larangan
Dikutip dari keterangan masyarakat di nagari Aua Kuniang, menjelaskan bahwa Surau dan Ikan larangan buya lubuak landua ini sudah berumur ratusan tahun. Surau didirikan pada tahun 1852 Masehi oleh Tuanku Khalifah Sutan Saidina Syech Basyir atau beliau lebih dikenal dengan Buya Basyir.
“Sejak surau berdiri, ikan larangan ini mulai dipelihara di aliran sungai yang ada di tepi surau. Dan terus berkembang biak sampai sekarang,” dalam keterangannya yang dikutip.
Sementara itu, akibat pernah terjadi gempa 6.1 SR yang berasal dari Gunung Talamau pada 24 Februari 2022, ada puluhan ton ikan yang mati karena pekatnya air sungai yang diakibatkan oleh runtuhan tanah. Namun yang mistisnya, ikan-ikan ini kembali muncul dengan jumlah yang tidak jauh beda dengan sebelumnya.
Biasanya, masyarakat dari nagari melakukan perayaan “manjalang Buya” setiap tahunnya pada perayaan “hari gayo Anam” (hari raya enam). Dan kegiatan dimulai dengan melakukan puasa Sunnah.
[]