Berisi Kritikan, Lagu “Pesta Babi” Meledak di Media Sosial, Soroti Tanah Papua

ARASYNEWS.COM – Jagat media sosial tengah diguncang lagu viral berjudul Pesta Babi. Lirik yang berisi kritikan, visual penuh sindiran, dan narasi yang menyoroti tentang tanah Papua membuat lagu ini menjadi perbincangan panas di berbagai platform digital.

Banyak publik menilai lagu tersebut sebagai jeritan kritik terhadap perampasan tanah adat, ketimpangan pembangunan, hingga suara rakyat kecil yang dianggap terus dipinggirkan.

Namun di sisi lain, lagu ini juga memicu kontroversi karena dinilai menyinggung isu sensitif tentang Papua, kekuasaan, dan kepentingan elite.

Sementara itu, ada perhatian publik yang mempertanyakan tentang apa yang terjadi di daerah Timur Indonesia itu. Benarkah Papua sedang dibangun, atau justru sedang kehilangan ruang hidupnya?

Kini “Pesta Babi” bukan sekadar lagu viral. Lagu ini berubah menjadi simbol kemarahan, keresahan, dan perlawanan terhadap elite sehingga mengguncang jagat maya.

Awal Mula Muncul Lagu Berjudul “Pesta Babi”

Sebuah lirik lagu berjudul “Pesta Para Babi Pembangunan” ramai diperbincangkan di media sosial sejak Rabu, 13 Mei 2026. Muncul setelah disebut terinspirasi dari film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono.

Lagu tersebut membawa pesan kritik sosial terkait konflik agraria, eksploitasi hutan, hingga nasib masyarakat adat di Papua yang disebut semakin terdesak oleh proyek strategis nasional dibawah pemerintahan saat ini dan sebelumnya.

Narasi dalam lagu menggambarkan bagaimana masyarakat adat di wilayah selatan Papua menghadapi ancaman kehilangan tanah leluhur akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan berbagai proyek pembangunan berskala besar.

Tidak hanya soal lahan, lagu itu juga menyinggung rusaknya hutan adat, hilangnya ruang hidup masyarakat lokal, hingga memudarnya nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Lirik-liriknya disebut penuh simbol dan metafora tajam. Frasa “pesta para babi pembangunan” dianggap sebagai sindiran terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengabaikan suara masyarakat adat demi kepentingan ekonomi dan investasi.

Viralnya lagu tersebut turut memancing diskusi banyak pihak mengenai kondisi Papua selama puluhan tahun terakhir. Isu operasi militer, konflik keamanan, hingga tudingan separatisme kembali menjadi sorotan karena dinilai sering muncul bersamaan dengan pembukaan lahan dan proyek-proyek besar di tanah Papua.

Sementara itu, kondisi yang sama juga terlihat di tanah Kalimantan yang tanah dan hutannya dibabat habis untuk proyek pembangunan yang ambisius.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like