ARASYNEWS.COM – Dalam beberapa hari terakhir, dunia mulai kembali menyoroti hantavirus. Beberapa laporan global menunjukkan terjadi peningkatan kasus di Asia Timur dan Eropa, outbreak sporadis di Amerika Serikat, serta adanya keterkaitan dengan perubahan iklim dan urbanisasi. Perubahan iklim memengaruhi populasi rodensia, meningkatkan reproduksi dan memperluas habitat mereka. Sementara itu, urbanisasi memperbesar kontak antara manusia dan reservoir virus.
Indonesia sendiri berada pada persimpangan dua faktor risiko ini: iklim tropis dan kepadatan penduduk tinggi. Artinya, risiko hantavirus bukan menurun, tetapi justru berpotensi meningkat.
Hantavirus bahkan disebutkan tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).
Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi masyarakat, surveilans berbasis risiko.
Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan dan komunikasi risiko kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa hantavirus adalah contoh nyata pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Banyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri, padahal, penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6%. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis dan tidak berkembang.
Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34%. Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi, yakni pada wilayah perkotaan.
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
Hal yang menjadi berkembangnya virus ini yakni urbanisasi dan kepadatan penduduk yang meningkatkan, lingkungan perkotaan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi habitat ideal bagi tikus untuk berkembang.
Perkembangan virus ini salah satunya adalah melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Kemudian virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau saliva tikus, kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.
Virus ini tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza. Hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di lingkungan kita sendiri yang berdampak besar mengancam kesehatan.
Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat ada 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga Mei 2026, dengan tiga kasus kematian atau tingkat fatalitas sekitar 13 persen.
Kasus ini tersebar di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara Timur.
Dalam penelusuran, seluruh kasus yang ditemukan berasal dari jenis Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang sempat dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Kemenkes menjelaskan penularan Hantavirus umumnya berasal dari tikus atau celurut melalui urine, feses, air liur, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi lalu terhirup manusia.
Pemerintah menilai risiko penularan antarmanusia di Indonesia masih rendah karena jenis virus yang beredar bukan Andes virus. Meski begitu, keberadaan reservoir tikus pembawa Hantavirus telah ditemukan di 29 provinsi, sehingga pengawasan dan deteksi dini terus diperketat.
Solusi Pencegahan
Dikarenakan belum ada vaksin yang tersedia secara umum, langkah pencegahan berfokus pada pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan (PHBS),
Selian itu hindari kontak dengan tikus ataupun hewan pengerat lainnya. Segera bersihkan kotoran, urin, dan sarang tikus dengan desinfektan.
Lakukan pengendalian Rodensia, yakni pastikan rumah bebas tikus dengan menutup celah di dinding, pintu, atau jendela.
Rutin menjaga kebersihan lingkungan, terutama daerah berdebu yang sering dihuni tikus, seperti gudang atau loteng.
Disarankan juga menggunakan alat pelindung seperti APD Saat Membersihkan, atau juga menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan kotoran tikus agar tidak menghirup debu yang terkontaminasi.
Makanan dan minuman disarankan disimpan di dalam wadah tertutup rapat agar tidak mengundang tikus.
Solusi Penanganan Medis
Hantavirus tidak memiliki pengobatan khusus, tetapi dokter dapat melakukan tindakan suportif untuk meringankan gejala, beberapa diantaranya yakni:
-Pemberian Oksigen, yakni alat bantu napas atau ventilator jika menyerang paru-paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS).
-Cairan Infus untuk mencegah dehidrasi.
-Dialisis atau cuci darah jika hantavirus menyebabkan gagal ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS).
-Antivirus, seperti Ribavirin dapat digunakan pada tahap awal untuk pencegahan.
Disarankan jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, dan sesak napas setelah kontak dengan area yang berpotensi terpapar tikus, maka segera temui dokter dan informasikan riwayat paparan.
[]