ARASYNEWS.COM – Pulau Siantan merupakan salah satu pulau yang dari Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini adalah pulau terbesar di kabupaten Anambas.
Pulau ini terletak di sebelah selatan Pulau Matak. Perjalanan menuju pulau ini dengan perahu cepat memakan waktu 45 menit dari Bandara Matak.
Penduduk pulau ini cukup padat, dan infrastruktur yang ada relatif cukup lengkap. Dan Teluk Tarempa adalah pelabuhan utama pulau ini, yang memiliki kedalaman lebih dari 20 m, sehingga dapat dilabuhi oleh kapal-kapal besar.
Ada banyak pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Siantan. Dan sebagian berpenduduk dan sebagian tidak.
Di pulau ini terdapat dua buah air terjun, yaitu Air Terjun Temurun di Siantan Timur dan Air Terjun Air Bini di Siantan Selatan.
Sejarah Pulau Siantan dahulunya dipergunakan sebagai pusat aktivitas Bajak Laut dan daerah pelarian politik pada abad 18 M.
Wilayah Siantan saat itu masuk dalam kekuasaan Kesultanan Johor yang merupakan kelanjutan Kesultanan Malaka. Sebagai pusat perdagangan di Siantan, wilayah ini dihuni sejumlah etnik seperti: Melayu, Bugis, Tionghoa, selain itu Orang Laut juga sejak lama menghuni Pulau Siantan.
Karena letaknya yang strategis menjadikan Pulau Siantan dan pulau lain yang ada di kawasan ini dikenal sebagai jalur perdagangan internasional.
Tidak mengherankan kapal-kapal asing dan Nusantara singgah ke Siantan. Jalur perdagangan yang begitu ramai menjadi peluang munculnya aksi perompakan yang dilakukan para lanun atau bajak laut (Swastiwi, 2018).
Aksi bajak laut di Siantan dan Jemaja (Anambas) sudah ada sebelum abad ke-18 M. Di dalam buku Suma Oriental yang ditulis Tome Pires, aksi bajak laut di Laut Cina Selatan abad ke-16 M telah ada. Para bajak laut berkumpul di Jumaia (Jemaja) untuk memasarkan hasil rampasannya. Jemaja dan Siantan dikenal sebagai tempat para lanun yang melakukan aksi di Perairan Palembang.
Aksi lanun di Siantan dan wilayah sekitarnya, seperti Jemaja berlanjut hingga abad ke-18 M, bahkan masih berlangsung hingga abad ke-21 M (Lapian, 2009).
Selain sebagai pusat perdagangan dan aktivitas bajak laut, Siantan pada abad ke-18 M juga menjadi daerah pelarian politik. Sejumlah penguasa dari Kesultanan Siak dan Kesultanan Palembang pindah ke Siantan, setelah kalah dalam perebutan kekuasaan di kesultanannya. Dari Kesultanan Siak, Raja Alam yang merupakan anak Raja Kecik, pendiri Kerajaan Siak pernah lama berdiam di Siantan. Cucu Raja Kecik, bernama Raja Ismail juga dikenal sebagai penguasa Laut Cina Selatan.
Selain bangsawan dari Kesultanan Siak, Pangeran Anom dan Pangeran Jaya Wikrama dari Kesultanan Palembang pada abad ke-18 M juga pernah hijrah ke Siantan. Keduanya kalah dalam perebutan kekuasan di Palembang. Usai pengembaraan dari Siantan, Pangeran Jaya Wikrama datang kembali ke Palembang dan berhasil merebut tahta kerajaan. Ia dilantik sebagai sultan dengan gelar sebagai Sultan Mahmud Badaruddin I.
Sejumlah literatur menjadi rujukan dalam membahas Siantan sebagai sejarah kawasan yang dikaitkan aktivitas bajak laut (lanun) dan daerah pusat pelarian politik, diantaranya, Timoty Barnard (2003) Pusat Kekuasaan Ganda, Masyarakat dan Alam Siak & Sumatera Timur 1674-1827.
Buku ini membahas Kesultanan Siak yang kekuasaannya hingga Sumatera Timur. Dalam buku ini ada dibahas hijrahnya Raja Alam dan juga Raja Ismail dari Siak ke Siantan karena pergolakan dalam Kesultanan Siak.
Asal Usul Masyarakat Siantan
Pulau Siantan berada di dalam kawasan Laut Cina Selatan yang dahulunya menjadi daerah rebutan karena ada pengaruh antara Cina, Amerika Serikat dan Indonesia.
Dahulunya, kawasan ini telah menjadi jalur perdagangan yang penting. Ratusan pulau yang ada di kawasan Laut Cina Selatan menjadi tempat persinggahan para pedagang. Mereka berhenti untuk berdagang atau untuk persinggahan sementara.
Pulau-pulau yang ada di Laut Cina Selatan menjadi jembatan menghubungkan antara Kalimantan dan Semenanjung Melayu. Sejak abad ke-18 M, wilayah ini menghimpun hasil barang dagangan dari wilayah Timur untuk dibawa ke Malaka.
Saat dahulu, penduduk asli Siantan terdiri dari empat kategori. Pertama, Orang Kamboja yang datang ke Siantan menjadi bajak laut (lanun) di Laut Cina Selatan. Kedua, para tawanan yang berasal dari Semenanjung Malaya, Temasek dan pulau-pulau lainnya di Kepulauan Riau. Ketiga, orang Brunei yang datang ke Siantan. Dan keempat, Orang dari Kerajaan Jambi yang hijrah ke Siantan. Perpaduan dengan penduduk pendatang lainnya, yakni orang Tionghoa dan Bugis, nantinya menyebar ke seluruh wilayah Anambas.
Asal usul nama Siantan berasal kata Siang Tan, sebuah wilayah di Cina bagian selatan. Penamaan ini terkait dengan tokoh bernama Lim Tau Kian.
Saat itu, Lim melarikan diri ke Siantan untuk mencari perlindungan karena kondisi perang di daerahnya.
Sekitar awal abad ke-18 M, terjadi kasus pemberontakan di wilayah Cina Selatan. Terjadi perang antara para petani di wilayah Sian Tang melawan Raja Huang Taiji dari Dinas Qing atau Wangsa Manchu ( 1644-1912 M). Akibat kejadian ini, Lim Tau Kian terpaksa pindah dari daerahnya dan berlayar menuju ke Siantan. Saat itu, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Johor. Agar diterima masyarakat Siantan dan Sultan Johor, Lim Tau Kian memeluk Islam dan menganti namanya menjadi Abdul Hayat.
Di Siantan, Lim Tau Kian alias Abdul Hayat menikah dengan wanita bangsawan anak dari Wan Awang dari Johor. Atas pernikahan ini, Abdul hayat mendapatkan gelar bangsawan ence (encik) sehingga lengkapnya Encik Wan Abdul Hayat. Di Siantan, Abdul Hayat ditetapkan menjadi kepala negeri Siantan. Selain beristri orang Melayu, Abdul Hayat juga memiliki istri orang Cina dari Dinasti Ming.
Keberadaan Bajak Laut di Siantan
Bajak laut (lanun) di kawasan Siantan, Laut Cina Selatan juga banyak diceritakan dalam cerita rakyat, hikayat maupun dari arsip-arsip pemerintah Kolonial Belanda.
Dalam cerita rakyat yang berkembang di Siantan, jauh sebelum abad ke-18 M, bajak laut sudah ada di Siantan. Diceritakan pada akhir abad ke-16 M, di daerah Gunung Kute yang terletak di Teluk Pulau Matak (Anambas), ada sebuah perkampungan kecil yang dihuni penduduk dari Kamboja. Orang yang tinggal di kampung ini menjadi bajak laut (lanun) yang bersama orang tawanan dari Malaya dan Temasek (Singapura) melakukan aksi perompakan di Laut Cina Selatan.
Tidak hanya di Laut Cina Selatan, mereka juga kadang menyerang penduduk di Semenanjung Malaya. Hasil perompakan dibawa ke Gunung Kute (Anambas). Para tawanan dijadikan budak, sementara wanitanya dijadikan istri. Budak-budak ini disuruh bekerja bercocok tanam dan juga mencari ikan. Wilayah ini dikenal cukup subur untuk pertanian.
Sekitar tahun 1515 M bajak laut telah ada ada di bagian timur Nusantara dan juga daerah sekitar pantai Sumatera bagian timur. Para bajak laut merompak dan menangkap budak yang nantinya dikumpulkan di sebuah tempat bernama Jumaia yang disebutkan dekat Pahang. Jumaia ini ditafsirkan sebagai Jemaja (Anambas). Siantan, Jemaja di Kepulauan Anambas hingga abad ke-21 M masih dikenal sebagai sarang bajak laut. Pulau ini masih digunakan sebagai basis kegiatan mereka.

Kepulauan Anambas saat ini
Berkunjung ke Anambas tidak lengkap jika tidak mengunjungi Tarempa. Pulau ini menjadi salah satu wilayah paling sibuk karena menjadi pusat ekonomi Anambas.
Saat berkunjung ke Tarempa traveler akan disambut pemandangan bangunan masjid megah dengan kubah hijau.
Dari 26 pulau yang berpenghuni di Anambas, Tarempa di Pulau Siantan ini menjadi salah satu wilayah paling sibuk karena menjadi pusat ekonomi Kepulauan Anambas. Selain itu pengunjung yang datang umumnya langsung ke Tarempa atau Pulau Siantan ini.
Untuk saat ini, penduduk Tarempa sangat majemuk terdiri dari suku Melayu, Minang, Jawa, Batak, Banjar, Bugis, Tionghoa, dan beberapa suku lainnya. Sehari-hari masyarakatnya menggunakan bahasa melayu.
Mayoritas warga di Tarempa ini tinggal di bangunan rumah papan kayu dengan ragam corak warna. Banyak rumah di sini bertumpu pada kayu di atas permukaan laut. Mayoritas mata pencaharian utamanya juga bergantung pada sektor laut seperti nelayan.
Bicara destinasi wisata, ada banyak ikon-ikon wisata yang khas di Kota Tarempa dan kerap dikunjungi wisatawan seperti Batu Tumpak Tiga, Batu Lepe, Masjid Agung Baitul Makmur, Masjid Jamik Baiturrahim, Vihara Gunung Dewa Siantan hingga pesona Air Terjun Temburun. Serta juga ada pantai dan pulau yang indah dekat Tarempa yang bisa dikunjungi.
[]