ARASYNEWS.COM – Sejak Desember 2023, gunung yang berada di dalam kawasan kabupaten Tanah Datar dan Agam masih terus mengeluarkan abu vulkaniknya. Sejumlah daerah di sekitar gunung kerap merasakan debu yang turun.
Sementara itu, baru-baru ini diunggah ke berbagai media, adanya penampakan retakan atau rekahan di dekat kawah verbek yang berada dibagian puncak. Rekahan ini bahkan terpantau dari kamera drone yang dilakukan pengguna.
Dan ini tentunya menjadi banyak pertanyaan dari masyarakat yang ada di Sumatera Barat. Waspada akan terjadi ancaman bahaya yang bisa saja terjadi.
Rekahan ini dianggap bisa menciptakan kaldera, seperti yang terjadi pada gunung Sago yang berada di kawasan Limapuluh Kota.
Sementara itu, dikutip dari keterangan petugas Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Marapi, Sumatera Barat, Teguh Purnomo, menjelaskan bahwa penampakan itu memang terlihat, hanya saja itu bukanlah rekahan seperti yang khawatirkan.
Dikatakannya, bahwa itu merupakan aliran air yang muncul dan juga adanya tumpukan sedimen yang mengarah ke kaki gunung.
Dan munculnya aliran air yang sewaktu-waktu berpotensi terjadinya banjir lahar dingin.
“Dari kejauhan bentuknya memang seperti rekahan pada bagian sisi puncak gunung, tapi itu merupakan aliran air yang muncul akibat tumpukan sedimen terutama saat musim hujan,” kata Teguh Purnomo di Kota Bukittinggi, dikutip Ahad (27/7).
Teguh mengatakan, jika diamati dari kejauhan menggunakan bantuan kamera atau drone, bentuknya memang menyerupai rekahan atau retakan. Namun, hal tersebut merupakan bekas aliran air bercampur material seperti batu dan pasir yang mengikis puncak atau dinding gunung.
Ia menegaskan, setelah erupsi besar 3 Desember 2023 tidak ada perubahan struktur bentuk Gunung Marapi. Hanya saja, setelah musim penghujan bekas aliran air yang mengalir deras seolah-olah membentuk seperti retakan atau rekahan.
“Fenomena yang tampak seperti retakan di puncak gunung jika dilihat dari kejauhan sebenarnya merupakan jalur aliran air yang terbentuk akibat endapan sedimen letusan sebelumnya. Ini terbentuk terutama setelah hujan lebat, air bercampur dengan material vulkanik seperti pasir dan batu mengalir melalui celah-celah yang ada di lereng gunung,” terangnya.
“Jadi, sebenarnya bukan retakan tetapi endapan material yang masih labil yang kemudian mengisi celah-celah. Ketika terjadi hujan lebat menciptakan aliran hujan yang menyatu dalam suatu lembah,” jelas dia.
Teguh memastikan aliran air tersebut sudah ada sebelum letusan besar 3 Desember 2023. Hanya saja, selama ini aliran air itu diselimuti pepohonan yang tumbuh subur sebelum terjadinya erupsi secara tidak kontinu hingga kini.
Ia mengingatkan kondisi tersebut tidak bisa diabaikan karena sangat rentan dan berbahaya terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Hal yang paling mungkin terjadi yakni banjir lahar dingin seperti peristiwa 11 Mei 2024 yang menelan puluhan korban jiwa.
“Ini cukup berbahaya ya, terutama untuk daerah-daerah di sekitar aliran sungai yang berhulu langsung dari puncak Gunung Marapi,” ujarnya mengingatkan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga kini belum mengidentifikasi secara spesifik berapa jumlah aliran air yang muncul setelah letusan 3 Desember 2023. Namun, hasil pemantauan drone sebarannya berada di sisi lereng timur dan ke lereng selatan serta di lereng barat daya Gunung Marapi.
Lebih lanjut, PVMBG mengimbau kepada warga yang bertempat tinggal di bantaran aliran air diimbau waspada. Tumpukan material hasil erupsi Gunung Marapi dinilai berpotensi menimbulkan aliran air yang dapat berujung pada banjir lahar dingin, terutama di musim penghujan.
[]