ARASYNEWS.COM – Kekeringan disebutkan dalam Al-Qur’an, terutama melalui kisah Nabi Yusuf dan juga sebagai akibat dari perbuatan manusia yang merusak lingkungan.
Tersirat dalam kitab suci Al-Qur’an, yang menyinggung tentang kerusakan yang terjadi di bumi yang merupakan akibat ulah perbuatan manusia, dan salah satunya adalah kekeringan.
Ayat Al-Qur’an
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Arab-Latin: ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilụ la’allahum yarji’ụn
Artinya. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh perbuatan manusia, sehingga Allah memberikan hukuman sebagai pelajaran agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia saat ini dapat menjadi salah satu bentuk azab Allah akibat perbuatan manusia yang merusak lingkungan.
Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an (Surah Yusuf) menyebutkan tentang prediksi kekeringan selama tujuh tahun yang akan datang di Mesir.
Nabi Yusuf menafsirkan mimpi Raja Mesir yang melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh tangkai gandum hijau dan tujuh tangkai kering.
Nabi Yusuf memperingatkan akan datangnya masa paceklik setelah masa subur, dan menyarankan agar penduduk Mesir menimbun makanan untuk menghadapi masa sulit tersebut.
Dan berkat persiapan yang dilakukan, Mesir pada masa itu berhasil melewati masa kekeringan panjang tanpa mengalami kelaparan yang parah.
Dalam kisah Nabi Yusuf ini diajarkan bahwa pentingnya dilakukan perencanaan, persiapan, dan pengelolaan sumber daya alam untuk menghadapi bencana. Dan juga mengingatkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam dan menghindari perbuatan yang dapat menyebabkan bencana.
Islam mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam, termasuk air, dan untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan. []