Melimpahkan Kesalahan Pada Orang Lain, Ini Peringatan Allah dalam Al-Qur’an

ARASYNEWS.COM – Al-Qur’an sebagai kitab suci yang benar diturunkan sebagai pegangan hidup umat yang beriman dan bertaqwa dalam menjalankan kehidupan untuk di dunia. Selain itu juga ada hadist-hadist yang menerangkan dan menjelaskan tentang hal itu.

Sebagai umat Muslim yang beriman dan bertaqwa sudah seharusnya mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-firman Allah SWT.

Salah satu yang lagi dibicarakan saat ini adalah tentang kesalahan dalam berucap dan bersikap yang telah dilakukan.

Kesalahan yang diucapkan dan diperbuat seseorang dilimpahkan kepada orang lain.

Untuk diketahui, dalam Al-Qur’an disebutkan melarang umat Muslim-Muslimah untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain yang tidak bersalah, dan menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan dosa dan tipu daya. Hal ini tercantum dalam Surat An-Nisa ayat 112.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن يَكْسِبْ خَطِيٓـَٔةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِۦ بَرِيٓـًٔا فَقَدِ ٱحْتَمَلَ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Artinya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.

Sementara itu, dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa umat Muslim-Muslimah untuk memaafkan kesalahan orang lain jika ia menyampaikan maaf dengan bersungguh-sungguh.

Ini sebagaimana tercantum dalam beberapa surat dalam Al-Qur’an, yaitu:

Surat Ali Imran ayat 134, yang menjelaskan bahwa memaafkan kesalahan orang lain merupakan ciri orang yang bertakwa.

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Surat Asy Syura ayat 40, yang menjelaskan bahwa pahala memaafkan dan berbuat baik berada di tangan Allah.

وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Surat As Syura ayat 43, yang menjelaskan bahwa memaafkan dan bersabar merupakan urusan yang patut diutamakan.

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Artinya: Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Menyalahkan orang lain adalah cara yang paling mudah untuk keluar dari belitan persoalan, tapi ini sekaligus menunjukkan seperti apa jati diri kita.

Kebiasaan menyalahkan orang lain adalah bentuk penghindaran diri dari tanggung jawab atas situasi buruk yang tengah dihadapi. Karena ucapan atau tindakan tertentu, situasi menjadi rumit dan mungkin tidak terkendali lazimnya, situasi rumit ini di luar dugaan.

Untuk keluar dari situasi rumit, orang yang mengeluarkan ucapan atau tindakan itu akan melemparkan kesalahan kepada orang lain agar orang itu dipersepsikan sebagai si pembuat onar pendeknya perlu ada kambing hitam.

Allah Ta’ala, berfirman:

وَإِذْ يَتَحَآجُّونَ فِى النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوٓا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُّغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِّنَ النَّارِ

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?” (QS. Ghafir 40: Ayat 47)

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوٓا إِنَّا كُلٌّ فِيهَآ إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

“Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba(Nya).” (QS. Ghafir 40: Ayat 48)

Penghuni neraka saling berbantah-bantahan. Orang-orang yang dulu sekedar menjadi pengikut menyalahkan orang-orang yang dulu mengajaknya melakukan pembangkangan. Dan tentu saja orang yang mengajak itu tidak mau disalahkan. Dan keduanya adalah sama.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi kalau tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, maka ini fatal. Orang yang gemar mengelak padahal sudah jelas ia berbuat salah, apalagi sampai menyalahkan orang lain, maka sungguh ini mental pengecut. Berbahaya sekali mental seperti ini, karena ini adalah bagian dari mental kemunafikan yang hina. Jangan sampai ada dalam diri kita mental yang seperti ini.

Jangan pernah takut mengakui kesalahan yang sudah kita lakukan. Bersikaplah ksatria. Mengakui, meminta maaf, dan perbaikilah. Tidak ada orang yang celaka disebabkan mengakui kesalahan. Yang celaka justru orang yang bersikap sebaliknya. Bersikap sombong tidak mengakui kesalahan, melarikan diri dari tanggung jawab, apalagi hingga menyalahkan orang lain.

Allah Ta’ala, berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلٰى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 135)

Keengganan mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri apalagi sampai meminta maaf, maka ini cerminan kesombongan yang ada di dalam hati. Sedangkan sombong adalah penyakit hati yang sungguh sangat berbahaya. Betapa banyak orang yang hancur karena kesombongan.

Semoga tausiyah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk hidup lebih baik dan rukun antar sesama umat Muslim-Muslimah.

Wallahu a’lam

[]

You May Also Like