ARASYNEWS.com — Ustadz Abdul Somad (UAS) mendapat kesempatan menyampaikan pidato di momentum hari kemerdekaan Republik Indonesia di salah satu lokasi. Dan pidatonya itu banyak diunggah ke berbagai media sosial dan menjadi sorotan publik hingga viral.
Diketahui, ia memberikan pidato saat dirinya sebagai inspektur upacara di Ma’had Az-zahra pada tanggal 17 Agustus 2026.
UAS menyampaikan kritik tajam dan penekanan kuat mengenai nilai-nilai kebangsaan, keadilan sosial, serta penolakan terhadap berbagai bentuk pengkhianatan terhadap kemerdekaan.
UAS menyampaikan pesan keras mengenai arti kemerdekaan, Pancasila, hak rakyat hingga tanggung jawab para pemimpin.

Pidato UAS
UAS mengawali pidatonya dengan mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan bukan hanya sebagai perayaan tahunan. Kemerdekaan harus disyukuri sekaligus dijaga melalui perilaku yang sesuai dengan nilai kebangsaan dan Pancasila.
Kemudian menyoroti praktik perjudian. Ia menilai orang yang merusak kehidupan masyarakat melalui perjudian telah mencederai nilai kemerdekaan.
Ia kemudian mengarahkan pidatonya kepada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. UAS menegaskan bahwa kehidupan berbangsa di Indonesia dibangun di atas nilai ketuhanan.
Pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ia menghubungkannya dengan korupsi terhadap keuangan negara. Menurut UAS, mereka yang mengambil atau menyelewengkan APBN maupun APBD tidak mencerminkan nilai kemanusiaan karena uang tersebut pada hakikatnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
UAS lalu menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya tidak menuntut sesuatu yang berlebihan dari negara. Rakyat membutuhkan jalan yang layak ketika bepergian, pelayanan kesehatan yang gratis atau murah, pendidikan yang murah, beasiswa bagi mereka yang membutuhkan, lapangan pekerjaan yang merupakan tanggungjawab pemerintah, tentang harga pangan yang dapat dijangkau masyarakat, hingga pada subsidi.
UAS kemudian menyampaikan kritik keras kepada pemimpin maupun wakil rakyat apabila hak-hak dasar tersebut tidak diberikan.
“Pemimpin, wakil-wakil rakyat yang tidak memberikan hak kemanusiaan, mereka adalah pengkhianat kemerdekaan,” ujarnya.
Isi pidato untuk sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. UAS mengingatkan pentingnya menjaga masyarakat agar tidak terpecah karena perbedaan agama maupun kepentingan lainnya.
Menurutnya, kemerdekaan harus menghasilkan persatuan, bukan justru membuka ruang bagi pihak-pihak yang mengadu domba masyarakat, adu domba kepentingan, hingga adu domba masyarakat dengan aparat.
UAS selanjutnya membahas sila keempat Pancasila mengenai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Ia menekankan bahwa keputusan-keputusan penting negara seharusnya dijalankan dengan prinsip permusyawaratan dan mekanisme yang semestinya.
Dalam bagian ini, UAS turut menyinggung Mahkamah Konstitusi. Ia mengkritik proses pengambilan keputusan yang menurut pandangannya tidak boleh meninggalkan prinsip permusyawaratan.
Isi pidato yang singgung adalah persoalan ekonomi. Ini ia kaitkan dengan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Menurut UAS, Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam besar dan tanah yang subur. Namun, ia mempertanyakan keadaan ketika masih ada warga Indonesia yang harus pergi ke luar negeri hanya untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup.
Situasi tersebut, dalam pandangan UAS, menunjukkan bahwa cita-cita keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud.
UAS menyampaikan kritik yang sangat keras terhadap siapa pun yang dianggap mengkhianati amanat keadilan sosial dan perjuangan bangsa.
Menurutnya, pengkhianatan terhadap hak rakyat tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele karena kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui pengorbanan besar para pendahulu.
Di bagian akhir pidato, UAS mengajak masyarakat menjadikan 17 Agustus sebagai momentum untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan.
Kemerdekaan, menurut pesan yang disampaikannya, bukan alasan bagi masyarakat untuk bersikap pasif ketika menyaksikan sesuatu yang dinilai tidak benar.
UAS mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia sendiri dibangun melalui keberanian rakyat menghadapi penjajahan dan ketidakadilan.
Ada potongan pidato yang tidak disebarkan:
“Jangan diam melihat kebatilan,” tekan UAS.
“Karena mengamuklah kita merdeka,” katanya.
UAS menghubungkan pernyataan tersebut dengan perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda dan ancaman PKI pada masa lalu.
Selain itu, UAS juga menyampaikan tentang kritikan yang lantang, suara keras tidak selalu harus dimaknai sebagai kemarahan. Dalam perspektif yang ia sampaikan, orang yang bersuara lantang terhadap sesuatu yang dianggap salah dapat sedang menjalankan prinsip amar makruf nahi mungkar
Pernyataan itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian paling banyak dipotong dan disebarkan pengguna media sosial.
Menutup pidatonya, UAS berdoa agar Indonesia senantiasa mendapat rahmat Allah.
[]