Negara-negara di Asia Tenggara Beralih Dari Vaksin China Akibat Kurang Efektif, Kini Mulai Suntikan Dosis Ketiga

ARASYNEWS.COM – Pemerintah dibeberapa negara sudah beralih dari vaksin buatan China, yakni Sinovac. Hal ini lantaran vaksin tersebut kurang efektif dibandingkan vaksin buatan AS maupun Jerman. Salah satunya juga dilakukan negara-negara di Asia Tenggara.

Negara-negara seperti Indonesia dan Thailand sebelumnya menggunakan vaksin asal China itu, tapi sekarang sudah mulai beralih karena sistem kesehatan tertekan terutama adanya varian baru Delta ini.

Sedangkan negara-negara di Eropa saat ini sudah mulai terbebas. Dan bahkan kegiatan keramaian pun tidak lagi dibatasi.

“Kenyataan saat ini sangat kontras dengan kemeriahan saat Beijing meluncurkan vaksin mereka dan kemudian bersikeras pada kemanjurannya yang tinggi. Bahkan ketika data kurang tersedia,” kata Chong Ja Ian, seorang profesor ilmu politik di Universitas Nasional Singapura yang mempelajari persaingan AS-China di Asia, dikutip dari The Washington Post, Jum’at (13/8/2021).

Ching mengatakan, perubahan itu menunjukkan betapa berisikonya mencoba menjadikan pandemi saat ini, Dan bahaya yang sangat nyata bagi kehidupan manusia, menjadi semacam alat propaganda.

Vaksin Sinovac dan Sinopharm di antara beberapa vaksin yang beruji coba paling awal, tapi mereka tidak merilis data penuh. Inilah yang menjadi kekesalan dan ketidak percayaan sejumlah negara.

Jutaan orang telah disuntik menggunakan vaksin tersebut, pemerintah berlomba mengamankan pasokan sebelum AS berjanji berbagi vaksin.

Di saat negara-negara kaya dengan cepat berusaha membeli vaksin Pfizer dan Moderna. beberapa negara berkembang memiliki sedikit pilihan kecuali berharap pada China.

Keraguan terhadap efektivitas Sinovac muncul pada Juni, ketika sejumlah dokter Indonesia yang telah divaksinasi penuh mulai terinfeksi Covid-19.

IDI mencatat sedikitnya 20 dokter meninggal yang telah divaksinasi penuh menggunakan Sinovac. Bahkan juga sejumlah pasien lainnya meninggal setelah disuntik.

Yang mirisnya lagi, data ini tidak disampaikan kepada publik oleh pemerintah, kementerian kesehatan, ataupun satgas penanganan Covid-19. Malah sebaliknya, pemerintah menyebutkan hal itu akibat penyakit bawaan (komorbit) yang terdapat pada pasien.

Perwakilan Sinovac dan Sinopharm tidak mengomentarinya. Pada Juni, Sinovac mengatakan kepada Global Times (koran pemerintah China), vaksinnya tidak bisa memberi 100 persen perlindungan, tapi bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit dan kematian.

CEO Sinovac, Yin Weidong, saat berbicara pekan lalu di forum yang diselenggarakan Menteri Luar Negeri China, mengatakan perusahaannya akan mengajukan penelitian klinis dan izin penggunaan darurat untuk varian delta ke regulator China dalam beberapa hari mendatang.

Dia juga mengatakan perusahaannya memiliki kapasitas produksi yang cukup untuk mengembangkan. Dan memproduksi vaksin untuk mengatasi varian baru.

Untuk diketahui, saat ini pemerintah Indonesia kembali melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 Moderna yang tahap awal ini diberikan kepada tenaga kesehatan. Vaksin ini didapat dari kiriman Amerika Serikat. []

You May Also Like