Kegiatan Makan Bejambau dan Basiacuong di Masyarakat Kampar

ARASYNEWS.COM – Masyarakat Kampar telah ada dan bermukim sejak zaman dahulu kala. Selain masyarakat pribumi, disebutkan juga ada yang datang dan menetap hingga turun temurun hingga saat ini.

Dari berbagai sumber, masyarakat yang datang adalah dari wilayah barat pulau Sumatera yakni Minang dan dari wilayah timur pulau Sumatera yakni Melayu.

Masyarakat di Kampar sejak zaman dahulu hingga sekarang masih tetap terus menjaga tradisi dan keagamaan bersama dilingkungannya.

Kegiatan-kegiatan ini rutin dilakukan pada momen-momen tertentu. Dan dari sekian banyak kegiatan ada yang bersifat keagamaan, bersifat adat, dan bahkan juga bersifat sakral.

Beberapa diantaranya yang rutin dilakukan pada zaman dahulu hingga saat ini adalah Balimau Kosai, Upacara Kotik, Badiqiu, Menjalang Mintuo, Bagholek Godang, Ayi Ayo Onam, basiacuong, sema antau, makan bajambau, dan masih banyak lainnya.

Makan Bajambau

Makan Bajambau merupakan suatu tradisi yang unik di kabupaten Kampar. Tradisi yang bersifat turun-temurun dari zaman dahulu kala tanpa ada perbedaan antara satu suku dengan suku yang lain di dalam masyarakat Kabupaten Kampar.

Tradisi Makan Bajambau lazim juga disebut dengan makan bersama pada acara-acara tertentu seperti acara pernikahan, acara aqiqah, acara adat (Penobatan Ninik Mamak), penobatan payung panji adat dan acara syukuran lainnya.

Jambau adalah suatu wadah/tempat meletakkan bermacam-macam jenis makanan yang terdiri dari dulang kaki tiga dan talam, di dalamnya disusun piring yang berisikan makanan yang akan dimakan pada acara tersebut. Isinya terdiri dari nasi dan berbagai macam sambal yang khas di kabupaten Kampar seperti: panggang ikan, gulai ikan salai, rendang daging, goreng ayam, dadio serta sayur-sayuran.

Basiacuong

Sebelum makan dimulai didahului dengan petatah petitih yang disebut pula dengan Basiacuong/Basisombou, dimana percakapan ini dimulai oleh ughang sumondo (limbago) yang ditujukan kepada Ninik Mamak atau undangan yang hadir pada suatu acara tersebut. Dan Ninik Mamak memberitahukan pula kepada Ninik Mamak yang lain dan para undangan yang berhadir tentang maksud himbauan dari ughang sumondo (limbago).

Setelah petatah petitih (Basiacuong/Basisombou) dilakukan dan telah mendapat persetujuan dari Ninik Mamak yang hadir, barulah makan Bajambau dapat dilaksanakan.

Seterusnya, setelah mendapat kesepakatan maka makan bajambau dilaksanakan yang dimulai dengan membaca doa makan. Setelah makan selesai Ninik Mamak pun permisi untuk pulang kepada ughang sumondo dengan perkataan petata petiti lagi . Demikianlah acara makan bajambau yang dilaksanakan oleh masyarakat adat kabupaten kampar .

Fungsi tradisi makan bejambau

Tradisi makan bajambau di desa di Kampar mempunyai fungsi tradisi didalamnya, diantaranya sebagai berikut ini:

  1. Meningkatkan solidaritas kebersamaan masyarakat.
  2. Mempertahankan eksitensi dari tradisi makan bajambau di masyarakat desa.
  3. Mempererat tali silaturahmi.
  4. Meningkatkan tingkatan seseorang didalamnya.
  5. Mendekatkan masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.

Aturan duduk dalam makan bajambau yang ada di Kabupaten Kampar merupakan hal yang sangat unik, dimana sebelum proses pelaksanaan makan bajambau para tamu yang datang khususnya di acara adat pernikahan tidak boleh sembarang duduk.

Posisi duduk itulah kita akan bisa menilai dan menentukan tingkatan seseorang. Misalnya, untuk hidangan jambau khusus yang diutamakan ialah untuk diletakkan ditempat duduk para orang tua-tua, para datuk dan para ninik mamak.

Pada awalnya norma terbentuk tidak disengaja. Akan tetapi dalam proses sosial yang relatif lama, tumbuhlah berbagai aturan yang kemudian diakui bersama.

Kekuatan daya ikat suatu norma tidak sama adanya dalam masyarakat, ada yang lemah dan ada pula yang kuat sampai anggota masyarakat tidak berani melanggarnya.

Sedangkan norma yang dimaksud agar dalam suatu masyarakat terjadi hubungan-hubungan yang lebih teratur antar manusia sebagaimana yang diharapkan bersama.

Adapun arti di dalam duduk tradisi makan bajambau adalah untuk bisa lebih memperkenalkan posisi duduk yang sudah ada sejak turun temurun.

Maka dari itu peran ninik mamak, orang tua dulu untuk bisa memperkenalkannya agar posisi duduk dalam makan bajambau dapat bisa dipertahankan sampai sekarang ini.

[]

Source. Kemdikbud

You May Also Like