Golongan Qadariyah dan Golongan Jabariyah dalam Ajaran Islam yang Muncul Lagi

ARASYNEWS.COM – Saat ini ramai diperbincangkan tentang Qadariyah dan Jabariyah. Ini adalah suatu paham atau aliran dalam agama Islam dan disebut melenceng atau sesat.

Aliran-aliran sesat di dunia ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Agama Islam. Sayangnya, dari masa ke masa, ada saja oknum dan golongan yang menyebarkan paham atau doktrin tertentu yang bertentangan dengan Agama Islam, namun mendapat sejumlah pengikut karena pembawaannya sangat meyakinkan.

Di masa lampau, terdapat aliran jabariyah yang mengajarkan umat Islam untuk tidak mempercayai bahwa hidup mempunyai pilihan takdir. Aliran ini sering dikaitkan dengan aliran sesat lain yang muncul di era yang sama, disebut dengan aliran qadariyah.

Lantas, apa perbedaan qadariyah dan jabariyah yang sama-sama menyesatkan ini?
Dikutip dari situs Muhammadiyah dan khutbah Jum’at, serta sumber lainnya, berikut ini perbedaan dan penjelasan Qadariyah dan Jabariyah.

Qadariyah dan Jabariyah merupakan istilah bahasa Arab yang menunjukkan suatu paham atau aliran dalam agama Islam. Perbedaan Qadariyah dan Jabariyah terletak pada cara mereka memandang takdir yang Allah berikan kepada manusia.

Qadariyah dan Jabariyah adalah bagian dari ilmu kalam, yakni ilmu yang membahas tentang keadaan dan proses soal-soal keimanan. Dalam paham Qadariyah dan paham Jabariyah, mempersoalkan tentang keimanan, yang disoroti adalah iman kepada Qada’ dan Qadar atau lebih dikenal dengan takdir.

Aliran Qadariyah

Qadariyah merupakan aliran di mana umat Muslim percaya kalau manusia hidup tanpa campur tangan Allah SWT. Mereka seakan “bebas” dari doktrin yang menjelaskan kalau semuanya akan kembali ke tangan Allah SWT.

Pengertian qadariyah secara etimologi, berasal dari Bahasa Arab, yaitu qadara yang bermakna kemampuan dan kekuatan. Sementara secara terminologi, qadariyah dapat didefinisikan sebagai suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Allah SWT.

Di sini, mereka menganggap kalau Allah SWT tidak sepenuhnya memperhatikan hamba-hambanya dan cenderung membebaskan manusia untuk berbuat apapun yang mereka mau tanpa “mengganggu” kehidupan yang sedang mereka jalankan. Mereka bahkan berani menyebut bahwa Allah SWT tidak akan mengetahui suatu tindakan sebelum itu terjadi.

Aliran qadariyah ini disebutkan dipelopori oleh guru-murid, Ma’bad al Juhani dan Ghailan ad Dimasyqi sekitar tahun 689 M. Alasan aliran ini muncul, menurut segi politik adalah isyarat menentang politik Bani Umayyah yang terkemuka pada masa itu.

Menurut M. Amin Syukur dalam Teologi Islam Terapan, Qadariyah berasal dari kata dalam bahasa Arab, yaitu qadara yang berarti kemampuan dan kekuatan. Secara istilah, Qadariyah diartikan sebagai kemampuan manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatannya.

Paham ini berpendirian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mereka juga bertanggung jawab penuh atas perbuatan baik maupun jahat yang dilakukan dalam hidupnya.

Dengan pemahaman tersebut, kaum penganut Qadariyah menolak bahwa nasib manusia ditentukan oleh Allah sejak zaman azali. Manusia juga tidak hanya hidup untuk menjalani nasib yang telah ditentukan.

Kaum Qadariyah percaya bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan para hamba-Nya. Meski ada takdir yang sudah ditetapkan seperti kelahiran dan kematian, manusia tetap memiliki kewenangan menjalani hidup sesuai keinginannya.

Aliran Jabariyah

Jabariyah merupakan aliran atau sekte dalam Agama Islam yang sesuai dengan jalan yang diberikan Allah, tidak percaya bahwa Allah SWT yang memberikan pilihan hidup kepada mereka. Padahal semua sudah diatur sedetail dan sedemikian rupa oleh-Nya.

Secara bahasa, jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Ini sesuai dengan kepercayaan mereka yang menganggap kalau Allah SWT “memaksa” umatnya melakukan semua yang sudah diperintahkan.

Disebutkan kalau aliran ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Beberapa tokoh terkenal yang merupakan pendiri aliran jabariyah yaitu Jahm bin Safwan, Al-Ja’ad Bin Dirham, Husain Bin Muhammad Al Najjar dan Dirar Ibn ‘Amr.

Mereka menganggap kalau manusia tidak memiliki kemampuan apa-apa di mata Allah SWT, sehingga mereka hanya bergerak sesuai dengan “takdir” yang sudah ditentukan.

Secara istilah, Jabariyah diartikan sebagai ideologi yang menyatakan bahwa segala perilaku manusia ditentukan oleh Allah SWT, baik yang sifatnya positif maupun negatif.

Dalam pemahaman ini, manusia dianggap tidak merdeka dan mengerjakan hidupnya dengan keadaan terpaksa. Itu karena segala sesuatunya telah ditentukan oleh qada’ dan qadar atau takdir dari Allah.

Kaum Jabariyah percaya bahwa manusia tidak memiliki andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya. Mereka juga merasa tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Perbedaan Qadariyah dan Jabariyah

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan Qadariyah dan Jabariyah terletak pada pemahaman kedua golongan tersebut terhadap takdir dan kehendak manusia didalamnya.

Kaum Qadariyah meyakini bahwa surga dan neraka adalah balasan atau imbalan dari segala amal perbuatan manusia semasa di dunia. Jika melakukan amal saleh dan selalu menaati perintah Allah, maka orang tersebut akan dimasukkan ke dalam surga. Dan sebaliknya, jika tidak, neraka adalah tempatnya.

Sementara itu, kaum Jabariyah mempercayai bahwa amal perbuatan bukanlah sebab masuknya seseorang ke surga atau neraka. Bagi mereka, ketentuan tersebut memang sudah ditakdirkan secara mutlak oleh Allah sejak manusia dilahirkan.

Disebut sama-sama sesat

Kedua paham atau aliran ini bisa dikatakan sebagai aliran sesat karena bertentangan dengan apa yang sudah diajarkan dalam Agama Islam.

Jika berbicara tentang jabariyah, perlu dipahami bahwa manusia punya kehendak bagi mereka untuk menentukan apapun pilihan mereka dalam hidup. Pilihan mereka ini merupakan “qadar”, yang nantinya akan berujung kepada “qada” mereka.

Kedua aliran aray golongan ini didasari pemahaman akan perbuatan manusia yang memiliki perbedaan pendapat yang benar-benar bertentangan satu sama lain. Qadariyah dengan pemikiran manusia memiliki kehendak dan kekuasaan dalam mewujudkan perbuatan, sedangkan Jabariyah terkesan keterpaksaan artinya segala perbuatan berasal dari Allah manusia tidak memiliki Masyi’ah ataupun Istitha’ah dalam menentukan perbuatan dan takdirnya.

Sementara itu, qadariyah juga salah karena hal serupa. Dalam Al-Qur’an tertulis jelas bahwa Allah SWT merupakan sosok Maha Mengetahui. Semua yang diciptakannya memiliki takdir tersendiri dan hal tersebut sudah diketahui-Nya sebelum zat tersebut diwujudkan.

Dalil-dalil naqliy dasar aliran Jabariyah

QS. Ash-Shafaat ayat 96 :

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Al-Anfal ayat 17 :
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـكِنَّ اللّهَ رَمَى

“……dan bukan kamu melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.”

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

QS. Al-Insan 30 :

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيماً حَكِيماً

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dalil-dalil aqliy landasan bagi kaum Jabariyah

Makhluk tidak boleh mempunyai sifat sama dengan sifat Tuhan, dan kalau itu terjadi, berarti menyamakan Tuhan dengan makhluknya. Mereka menolak keadaan Allah Maha Hidup dan Maha Mengetahui, namun ia mengakui keadaan Allah Yang Maha Kuasa. Allah-lah yang berbuat dan menciptakan, oleh karena itu, makhluk tidak mempunyai kekuasaan.

Manusia tidak memiliki kekuasaan sedikit pun, manusia tidak dapat dikatakan mempunyai kemampuan (Istitha`ah). Perbuatan yang tampaknya lahir dari manusia bukan dari perbuatan manusia karena manusia tidak mempunyai kekuasaan, tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai pilihan antara memperbuat atau tidak memperbuat.

Semua perbuatan yang terjadi pada makhluk adalah perbuatan Allah dan perbuatan itu disandarkan kepada makhluk hanya penyandaran majazi. Sama seperti kata pohon berbuah, air mengalir, batu bergerak, matahari terbit dan tenggelam dan biji-bijian tumbuh dan sebagainya.

Dalil-dalil naqliy yang menjadi dasar aliran Qadariyah

QS Ar- Ra`du ayat 11 :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri.”

QS An –Nisa` ayat 110 :

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً

“…… Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalil-dalil aqliy yang dijadikan sebagai landasan kaum Qadariyah

Jika perbuatan manusia diciptakan atau dijadikan oleh Allah swt mengapa manusia diberi pahala jika berbuat baik dan disiksa jika berbuat maksiat dan dosa. Bukankah yang membuat atau menciptakan perbuatan itu adalah Allah SWT sendiri. Jika demikian halnya berarti Allah SWT tidak bersikap adil terhadap manusia, sedang manusia itu sendiri adalah adalah ciptaan-Nya.

Melihat bahwa terdapat ayat ayat Al-Qur’an dan dalil-dalil aqli menjadi landasan kedua golongan tersebut, tidak mengherankan, sekalipun penganjur paham Jabariyah dan Qadariyah telah lama meninggal, akan tetapi masih terdapat di kalangan kaum muslimin. Dalam sejarah teologi Islam selanjutnya, paham Qadariyah dianut oleh kaum Muktazilah sedangkan paham Jabariyah moderat masih terdapat dalam aliran Asy’ariyah.

Sejarah lahirnya

Aliran Qadariyah dan Jabariyah merupakan salah satu aliran teologi tertua dalam Islam. Kemunculan aliran qadariyah sendiri tidak semata-mata hanya karena dinamika pemikiran dalam Islam saja, akan tetapi juga disebabkan oleh gejolak politik yang ada pada masa Dinasti Umayyah I yaitu pada tahun 661 hingga 750 M.

Beberapa pemikiran dari aliran qadariyah seperti manusia memiliki kehendak bebas atau free will membuat aliran tersebut bertentangan dengan aliran jabariyah. Di mana pokok pemikiran tersebut pula yang menyebabkan aliran qadariyah sebagai ideologi serta sekte bidah.

Kata qadariyah, berasal dari kata qadara yang memiliki dua pengertian yaitu adalah berani untuk memutuskan serta berani untuk memiliki kekuatan maupun kemauan. Sedangkan kata qadariyah yang dimaksudkan oleh aliran ini ialah suatu paham, bahwa manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak serta memiliki kemampuan untuk berbuat.

Orang-orang yang menganut aliran qadariyah, merupakan sebuah kelompok yang meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia terwujud, karena ada kehendak serta kemampuan manusia itu sendiri. Dalam aliran qadariyah pula, para penganut percaya bahwa manusia dapat melakukan sendiri seluruh perbuatan, sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Para penganut aliran qadariyah ini bersandar pada salah satu firman Allah yaitu surat Al Kahfi ayat 29 yang berbunyi,
‘Barang siapa yang menghendaki untuk menjadi orang beriman, maka berimanlah dan barang siapa yang menghendaki untuk menjadi orang kafir, maka kafirlah’.

Dua pokok pemikiran yang ada pada aliran qadariyah, yakni: Melawan kezaliman-kezaliman dengan tangannya sendiri dan Keadilan dari Allah berasal dari kehendak bebas.

[]

You May Also Like