Disebutkan karena anak-anak masih menginginkan makan gratis di sekolah, tetapi dibalik itu, ada cicilan yang tengah berjalan.
ARASYNEWS.com — Jika sebelumnya mahasiswa dan masyarakat berunjuk rasa agar program presiden dan wakil presiden untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi dilanjutkan. Dengan alasan pemborosan anggaran negara dan bahkan semakin bertambahnya utang luar negeri serta berbagai pajak diberlakukan bertambah kepada masyarakat di Indonesia.
Kini, ratusan orang yang diketahui merupakan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari berbagai dapur umum berunjuk rasa. Akan tetapi diklaim bahwa mereka merupakan emak-emak.
Mereka protes agar program MBG tetap berlanjut dengan alasan memberikan kemudahan.
Program ini diklaim memudahkan anak-anak di sekolah untuk mendapatkan makanan yang bergizi. Dan juga disebutkan anak-anak menyukai makanan gratis di sekolah.
Bukan hanya itu saja, program ini disebutkan menciptakan lapangan pekerjaan dengan merekrut karyawan.
Mereka menggelar aksi damai di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Rabu (17/6/2026) siang. Aksi ini digelar sebagai bentuk dukungan terhadap program MBG pemerintahan Prabowo dan Gibran yang dinilai membantu memenuhi gizi anak serta meringankan beban ekonomi dan kesibukan orang tua.
Untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib, jajaran Polda Metro Jaya mengerahkan sedikitnya 1.000 personel kepolisian. Petugas ditempatkan di sejumlah titik strategis di sekitar lokasi aksi guna mengantisipasi gangguan keamanan serta mengatur arus lalu lintas selama aksi damai tersebut berlangsung.
Dikutip dibalik pengakuan, ternyata ada sesuatu yang tengah berjalan bagi karyawan SPPG dan penyuplai bahan-bahan makanan di dapur umum. Ada kredit dan cicilan yang tengah berjalan.
Disisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) tengah berencana melakukan penataan ulang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar lebih tepat sasaran.
Kepala BGN Nanik S Deyang mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga mampu berpotensi tidak lagi menjadi penerima program MBG. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari rencana refocusing anggaran agar bantuan gizi lebih tepat sasaran kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. Nanik menyebut Presiden Prabowo menyambut positif gagasan tersebut.
Dikatakan Nanik, evaluasi dilakukan karena tidak semua dari sekitar 63 juta penerima manfaat saat ini dinilai membutuhkan intervensi gizi yang sama. Sekolah-sekolah yang berasal dari kalangan mampu dianggap memiliki akses gizi yang lebih baik sehingga anggarannya bisa dialihkan ke wilayah atau kelompok yang lebih membutuhkan. Selain melakukan penataan ulang penerima manfaat, BGN juga menegaskan fokus program MBG ke depan bukan lagi mengejar jumlah penerima, melainkan meningkatkan kualitas pelaksanaan dan pengawasan program di lapangan.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan, salah satu opsi yang juga tengah dikaji adalah menghentikan pemberian MBG bagi sebagian siswa SMA, terutama di sekolah yang siswanya dinilai berasal dari keluarga mampu.
Langkah tersebut merupakan bagian dari refocusing program untuk meningkatkan efektivitas intervensi gizi sekaligus menekan pemborosan anggaran. Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat, sementara fokus program akan diarahkan kepada kelompok yang lebih membutuhkan. Selain itu, BGN juga menghentikan sementara penyaluran MBG selama masa libur sekolah untuk melakukan audit dapur, pembenahan tata kelola, serta penyempurnaan data penerima manfaat.
Tak hanya menyasar penerima manfaat, BGN juga akan mengevaluasi skema insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selama ini seluruh SPPG menerima insentif tetap Rp6 juta per hari, meskipun jumlah penerima manfaat yang dilayani berbeda-beda. Ke depan, besaran insentif akan disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat riil dan kualitas layanan yang diberikan, termasuk standar keamanan serta mutu makanan. BGN menilai skema lama cenderung lebih boros terhadap keuangan negara sehingga perlu diperbaiki agar anggaran MBG dapat digunakan secara lebih efisien dan tepat sasaran.
[]