Tiga Mahasiswi yang Lantang Suarakan Aksi
ARASYNEWS.com — Unjuk rasa yang dilakukan di pusat ibukota, Jakarta, digerakkan oleh mahasiswa dari berbagai universitas dan perguruan tinggi. Mereka datang untuk menyampaikan kritik dan suara rakyat yang selama ini tidak didengar oleh pemerintah.
Bukan hanya itu saja, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto – Gibran ini telah banyak membuat masyarakat menjerit akibat kebijakan-kebijakan yang hanya pro pada rezim, pejabat, dan golongan-golongan tertentu.
Meski aspirasi dan suara yang disampaikan mendapat blokade hingga pembubaran dari aparat kepolisian, mereka tidak gentar.
Dua tahun kepemimpinan ini dianggap gagal. Akan tetapi Prabowo dan pengikutnya merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar, padahal tidak secara nyata.
Dari aksi yang terjadi, ada tiga mahasiswi yang menjadi sorotan dan viral dalam aksi demonstrasi mahasiswa pada Oktober 2026, mereka adalah
- Fathimah Azzahra, dari Universitas Indonesia (UI).
Ia dikenal tidak gentar menyuarakan isu publik dan ikut bergerak bersama massa aksi hingga berhasil menembus Bundaran HI setelah upaya sebelumnya sempat terkendala.
- Zahra Nazira Firman, dari Universitas Trisakti
Perempuan yang juga dikenal sebagai ketua BEM FH Trisakti ini tampil lantang berorasi menyuarakan tuntutan pertanggungjawaban pemerintah.
Dalam orasi, ia menggemakan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang mendesak pemulihan sektor nasional, pemberantasan pejabat yang tidak kompeten, dan pengembalian supremasi sipil.
- Naomi Artika Simamora, dari Universitas Palangka Raya (UPR)
Ia ikut bersama mahasiswa-mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Kalimantan ke Jakarta. Mereka membawa suara dan aspirasi masyarakat yang terdampak langsung oleh bencana kabut asap karhutla, khususnya yang diderita masyarakat di pulau Kalimantan.

Sementara itu, presiden Prabowo Subianto seakan tidak ingin aksi unjuk rasa untuk menyampaikan suara dn protes ini terjadi. Ia bahkan mengintruksikan aparat kepolisian untuk bertindak tegas menangkap mereka-mereka (peserta aksi) yang ada di Jakarta yang berbuat rusuh.
Sementara itu, suara dan tuntutan mahasiswa yang disampaikan hingga saat ini tidak didengar. Beberapa diantaranya adalah karhutla, program makan bergizi gratis, koperasi desa keluarga merah putih (KDKMP), pemborosan anggaran terutama untuk pertahanan-keamanan, kabinet yang “gemuk”, dan lainnya.
Disisi lain, di berbagai media, banyak masyarakat yang mendukung aksi ini dan bahkan berharap agar presiden dan wakilnya mundur dari jabatannya.
[]