ARASYNEWS.com — Dalam momentum hari raya kurban atau hari raya Idul Adha, ada terlihat hewan-hewan kurban seperti sapi dan kambing yang mengeluarkan air mata. Terlihat seperti menangis saat sebelum disembelih.
Penampakan ini dikaitkan dengan kesedihan karena dikurbankan dan juga dikaitkan karena merasa bahagia menjadi hewan yang terpilih untuk dikurbankan.
Fenomena hewan kurban yang mengeluarkan air mata juga sering dikaitkan dengan kesedihan emosional. Namun, hal ini bertolak belakang dengan sains dan medis.
Hal tersebut disebutkan merupakan respons fisiologis normal akibat iritasi mata, dan sama sekali bukan tanda bahwa hewan tersebut menangis karena takut atau sedih.
Dirangkum dari berbagai ulasan ahli medis hewan dan kedokteran, ada beberapa keluarnya air mata pada hewan, salah satunya pada hewan hewan kurban
-Iritasi Akibat Transportasi
Air mata paling sering keluar karena mata hewan terpapar debu, kotoran, atau asap knalpot saat proses pengiriman (transportasi) dari penjual ke lokasi penyembelihan.
-Respons Pembersihan Alami
Produksi air mata (cairan) adalah mekanisme pertahanan tubuh hewan untuk membilas dan membersihkan mata dari iritasi benda asing tersebut.
-Indikasi Masalah Kesehatan
Apabila mata berair disertai kotoran mata yang berlebih dalam waktu lama, ini bisa menjadi tanda infeksi penyakit pada hewan. Pastikan hewan memenuhi Standar Kesehatan Kurban.
Secara psikologis, mamalia seperti sapi atau kambing tidak memiliki kemampuan mental untuk menangis karena emosi seperti manusia. Perilaku menangis karena dorongan psikologis hanya terdapat pada kelompok primata.
Disisi lain, dalam perspektif syariat Islam, hewan yang disembelih sesuai dengan ketentuan (syariat) tidak merasakan sakit karena pemotongan dilakukan dengan cepat dan tepat pada saluran utama pernapasan dan pembuluh darah leher.
Penyembelihan yang baik akan memicu refleks alami tubuh, namun bukan reaksi rasa sakit yang berkepanjangan. Kurban yang dilaksanakan juga bernilai sebagai amalan bekal akhirat
Apakah Hewan Kurban Merasa Sakit saat Disembelih?
Dilansir dari buku Menjadi Bijak & Bijaksana yang disusun Ibnu Basyar, sebuah penelitian menunjukkan hewan yang disembelih secara syariat Islam tidak merasakan sakit sama sekali. Penelitian ini dilakukan oleh dua orang staf peternakan dari Hannover University di Jerman.
Prof Wilhelm Schulze dan koleganya Dr Hazim memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan menyembelih hewan seperti apa yang paling tidak sakit. Apakah secara syariat Islam menggunakan pisau tajam atau menyembelih dengan cara barat yaitu dipukul terlebih dulu kepala hewan.
Keduanya merancang penelitian canggih menggunakan sekelompok sapi yang dewasa. Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro Encephalograph (EEG).
EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik rasa sakit untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit ketika disembelih. Jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung ketika darah keluar karena disembelih.
Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu, setelah adaptasi dianggap cuku maka separuh sapi disembelih sesuai syariat Islam. Separuh lagi disembelih dengan metode pemingsanan yang diadopsi barat.
Secara Islam, hewan kurban harus disembelih menggunakan pisau tajam dengan memotong tiga saluran pada leher, yaitu saluran makan, napas, serta dua saluran pembuluh darah yang merupakan arteri karotis dan vena jugularis.
[]