ARASYNEWS.COM – Film dokumenter “Pesta Para Babi Pembagunan” menjadi simbol kemarahan, keresahan, dan perlawanan terhadap elite penguasa di Indonesia.
Film ini karya Dandhy Dwi Laksono. Yang membawa pesan kehidupan dan kritik sosial terkait konflik agraria, eksploitasi hutan, hingga nasib masyarakat adat di Papua. Mereka terdesak oleh proyek strategis nasional dibawah pemerintahan saat ini dan sebelumnya.
Tanah leluhur yang diklaim pemerintah sebagai lahan kosong diekspansi alat berat untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit dan berbagai proyek pembangunan nasional berskala besar.
Hutan adat yang diwariskan turun-temurun hilang dan juga habitat kehidupan satwa terancam.
Film dokumenter ini dianggap sebagai sindiran terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengabaikan suara masyarakat adat dan habitat satwa demi kepentingan ekonomi dan investasi.
Diberbagai daerah, setelah menyaksikan film dokumenter ini, memancing diskusi banyak pihak mengenai kondisi Papua selama puluhan tahun terakhir. Isu operasi militer, konflik keamanan, hingga tudingan separatisme kembali menjadi sorotan karena dinilai sering muncul bersamaan dengan pembukaan lahan dan proyek-proyek besar di tanah Papua.
Penayangan film ini mendapat larangan dari pihak TNI dibawah komandonya. Dan ini sangat mengherankan karena TNI langsung turun tangan yang sesungguhnya bukan ranahnya. Apa yang dilakukan TNI ini disebut melanggar UUD 1945 RI.
Jalannya cerita film Pesta Para Babi Pembagunan ini melihat tanah Indonesia bagian Timur yang dibabat habis. Dan kondisi yang sama juga terlihat di tanah Kalimantan yang tanah dan hutannya dibabat habis untuk proyek pembangunan yang ambisius.

Film Dokumenter Pesta Babi Dicekal Tapi Tetap Tayang
Tindakan pembubaran di sejumlah daerah tidak menghentikan pemutaran masyarakat untuk menonton film dokumenter Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita. Hingga Kamis (14/5/2026) malam, nonton bareng atau nobar justru meluas ke kampus, sekretariat, kedai, warung, hingga taman baca di berbagai wilayah.
Film yang mengkritik Program Strategis Nasional atau PSN di Papua Selatan itu memantik diskusi tentang ruang hidup, keadilan, dan kebebasan akademik mereka yang menonton.
Dari akun Ekspedisi Indonesia Baru, tercatat sudah ratusan lokasi pemutaran Pesta Babi di Indonesia sejak peluncurannya pada Maret 2026. Pada Senin (11/5/2026), misalnya, ada nobar di 39 lokasi, lalu Selasa di 49 lokasi, Rabu tercatat di 91 lokasi, dan Kamis mencapai 130 lokasi nobar. Nobar akan terus dilakukan dan link film untuk mendaftar juga telah disebarkan.
Meski sempat terjadi pembubaran paksa terhadap nobar film dokumenter investigatif karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono ini. Pembubaran oleh pimpinan kampus dan/atau aparat, terutama dari TNI, berlangsung di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara.
Hingga kini, film Pesta Babi belum tersedia di platform streaming umum seperti Netflix atau YouTube.

Pemutaran masih dilakukan secara terbatas melalui jaringan komunitas dan agenda nobar resmi yang terdaftar kepada penyelenggara.
Bagi yang ingin menonton film dokumenter Pesta Para Babi Pembagunan ini yang asli disebutkan dapat mendaftar di bit.ly/musimnobar_pestababi
[]