Ajakan Tarik Uang dari Bank BUMN Akibat Dibentuknya Danantara

ARASYNEWS.COM – Pemerintah akan membentuk Danantara sebagai upaya untuk menciptakan sistem investasi yang lebih lincah, menarik mitra strategis, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional hingga targetnya dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen

Dari keterangan Presiden Prabowo Subianto, bahwasanya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan berdiri pada 24 Februari 2025.

Danantara dirancang sebagai langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan aset negara, termasuk mengoptimalkan investasi nasional agar lebih efisien dan produktif.

Danantara akan memiliki peran sentral dalam mendukung investasi pada proyek-proyek berkelanjutan yang berdampak tinggi.

Dengan aset pengelolaan lebih dari USD 900 miliar, lembaga ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada Penyertaan Modal Negara (PMN).

Salah satu tujuan utama pembentukan Danantara adalah untuk meningkatkan daya tarik investasi asing ke Indonesia dengan menawarkan instrumen investasi yang lebih fleksibel dan mengurangi ketergantungan pada anggaran negara sebagai sumber pembiayaan utama.

Dengan struktur yang lebih lincah dibandingkan format BUMN konvensional, Danantara diharapkan mampu menarik mitra strategis global untuk berinvestasi di sektor-sektor unggulan Indonesia, termasuk proyek infrastruktur dan teknologi.

Ajakan di Media Sosial

Di media sosial, Danantara ini menjadi banyak perbincangan hingga ajakan untuk nasabah menarik uang tabungannya di rekening bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tengah.

Danantara menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan atau trending topic di X (Twitter) per Kamis, 20 Februari 2025. Cuitan (tweet) atau unggahan yang dilakukan warganet terkait dengan dana kekayaan kedaulatan (SWF) atau dana investasi pemerintah tersebut.

“Mencurigakan dan mengerikan jika Danantara tidak bisa diperiksa @KPK_RI (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan @bpkri (Badan Pemeriksa Keuangan) ya, apalagi ada mantan napi koruptor BI (Bank Indonesia) di sana. Ayo pindahkan uang kita dari bank BUMN,” tulis salah satu akun X @dr_alt*, Kamis, 20 Februari 2025.

Lalu, apa saja dampak dari penarikan uang di bank secara besar-besaran?

Melansir repo.darmajaya.ac.id, penarikan uang massal atau rush money merupakan suatu gerakan untuk menarik uang secara bersama-sama dari tabungan masing-masing dengan jumlah yang besar, atau bahkan ada juga yang mengambil uang yang berada di bank tabungan sampai tidak ada yang tersisa.

Rush money, panik bank, atau disebut juga sebagai bank run bisa terjadi kapan saja, mulai dari akibat kesehatan bank, kondisi perekonomian, hingga karena kepercayaan nasabah yang hilang.

Beberapa Dampak dari Penarikan Uang Besar-besaran:

  1. Terjadi Krisis Perbankan

Mengutip repositori.metrouniv.ac.id, penarikan uang massal yang terjadi di sebuah bank bisa memicu krisis perbankan saat menjalar ke bank lainnya (efek menular). Fenomena krisis perbankan telah menjadi permasalahan global dan beberapa kali terjadi, baik di negara maju maupun negara berkembang, terutama sejak era liberalisasi keuangan pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Kemudian, mengacu pada International Journal of Business, Economics, and Law atau IJBEL (2021), ajakan untuk mencairkan uang massal akan membuat bank kekurangan uang tunai hingga akhirnya bangkrut. Bank akan mengalami gagal bayar karena simpanan nasabah sebenarnya telah diputar untuk penyaluran kredit.

Dampak langsung dari rush money adalah lembaga perbankan akan mengalami kesulitan likuiditas yang besar, diikuti dengan kekurangan likuiditas perekonomian secara keseluruhan. Kondisi tersebut diperparah dengan melonjaknya suku bunga di pasar uang antarbank hingga ratusan persen.

  1. Terjadi Kerugian

Fenomena rush money juga berpotensi merugikan nasabah, karena menarik uang sebelum jatuh tempo bagi tabungan dalam bentuk deposito, sehingga nilainya anjlok. Apabila nasabah tertarik dengan ajakan tersebut, maka tidak menutup kemungkinan dapat menguntungkan pihak-pihak tertentu atau provokator dengan cara memanfaatkan melemahkan nilai dan indeks saham.

  1. Terjadi Resesi

Dampak dari rush money juga akan meluas hingga membahayakan pelaku bisnis dan perekonomian lainnya, karena peredaran uang yang tidak lancar. Pemerintah kemudian akan berupaya agar dampaknya tidak merembet, sehingga terjadinya resesi ekonomi yang lebih parah serta pemulihannya bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Pemerintah juga bisa saja mengambil kebijakan stabilisasi dan perbankan secara menyeluruh. Namun jika penjaminan oleh pemerintah dilakukan saat keuangan tidak cukup, maka dapat menyebabkan beban fiskal yang sangat besar. Pemerintah terpaksa harus mencari sumber pendanaan lain, seperti utang, yang pada akhirnya akan menambah beban utang negara.

You May Also Like