ARASYNEWS.COM – Tidak ada seseorang yang ingin tersakiti atau teraniaya atau terzalimi di dunia ini. Rasa yang didapat sangat pedih dan sakit.
Tapi, dalam kehidupan sekarang, rasa seperti itu bisa saja didapat dari siapa saja, baik dari keluarga, orang tua, teman, anak, tetangga, lingkungan, bahkan pemerintah. Hal seperti ini didapat bisa disengaja ataupun tidak disengaja.
Firman Allah SWT:
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
”Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. An-Nisa: 148).
Berdasarkan ayat tersebut, menurut pendapat para ulama, boleh (ja’iz) hukumnya mendoakan keburukan oleh orang yang tersakiti/teraniaya/terzalimi kepada orang yang telah menyakiti/menzaliminya, dan itu semua dikategorikan ke dalam “doa” yang mustajab/mujarab, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah” (HR Bukhari).
“Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir dan doa buruk orang tua kepada anaknya” (HR. Abu Daud dan al-Tirmizi).
“Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah” (HR. Ahmad).
“Doa orang yang dizalimi adalah diterima sekalipun doa dari orang yang jahat. Kejahatannya itu memudaratkan dirinya dan tidak memberi kesan pada doa tadi” (Hadis hasan riwayat at-Tayalasi).
“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan)…….” (HR. Muslim).
Baginda Rasulullah ﷺ bersabda
“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan di Surga, hendaknya ia memaafkan orang yang menzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya” (HR. Thabrani).
Dibalik itu semua, bagi umat beragama, tentunya bagi orang yang menyakiti ada amalan do’a untuk orang yang telah menyakiti
حَسْبِىَ اللّٰهُ لِدِيْنِىْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لِدُنْيَايَ حَسْبِىَ اللّٰهُ لِمَنْ اَهَمَّنِىْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لِمَنْ بَغَاعَلَىَّ حَسْبِىَ اللّٰهُ لِمَنْ كَادَنِىْ بِسُوْءٍوَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللّٰهِ
“Hasbiyallahu lidiini, hasbiyallahu lidunyaa, hasbiyallahu liman ahammanii, hasbiyallaahu liman baghaa ‘alayya, hasbiyallahu liman kaada nii bisuu-in walaa haula walaa quwwata illaa billah.”
Artinya: “Cukuplah Allah (penolong) bagi agamaku, cukuplah Allah (penolong) bagi duniaku, cukuplah Allah (penolong) ku terhadap sesuatu yang menyusahkanku, cukuplah Allah (penolong) ku terhadap orang yang menganiayaku, cukuplah Allah (penolong) ku terhadap orang yang ingin berbuat jahat kepadaku, tak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah.”
Lafalkanlah do’a tersebut jika kita merasa teraniaya atau tersakiti. Dengan tindakan atau perkataan seseorang tidak perlu dibalas dengan dendam, namun cukup panjatkan do’a yang baik untuk kita sendiri agar diberikan kekuatan, juga untuk orang yang telah menyakiti kita agar diberikan kesadaran, dengan begitu kita akan dimuliakan oleh Allah SWT. Sedangkan untuk balasan yang setimpal alangkah baiknya menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.
Pada dasarnya, Allah SWT melarang kita mendoakan jelek terhadap orang lain karena doa jelek itu justru malah bisa berbalik menjadi doa jelek untuk diri kita sendiri. Namun khusus untuk orang-orang yang tersakiti/terzalimi/teraniaya, dibolehkan. []