ARASYNEWS.COM – Istilah tumbal proyek mungkin sudah tidak terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Cerita masyarakat dari zaman dahulu terkait adanya proyek pembangunan dikaitkan dengan tumbal. Tumbal untuk proyek ini pernah ada untuk pembangunan jalan, jembatan, jalur kereta api, dan bahkan juga gedung-gedung bertingkat, hotel hingga mal.
Tumbal untuk proyek ini dikaitkan agar proses pengerjaan pembangunan berjalan lancar. Menurut cerita yang berkembang, jenis tumbal ada bermacam-macam, dan biasanya berupa hewan atau bahkan manusia.
Konon, persembahan tumbal merupakan perjanjian terikat dengan makhluk gaib atau bahkan juga agar daerah lokasi dan pekerja aman dan tidak diganggu makhluk gaib yang iseng.
Jika tidak ada tumbal, kabarnya suatu proses pembangunan akan terhambat dan banyak mengalami masalah.
Lantas, benarkah hal itu benar-benar terjadi?

Tumbal pembangunan jalur kereta api
Kereta api pernah ada yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau. Jalur ini melewati Sawahlunto – Kuantan Singingi – hingga ke Kota Pekanbaru.
Kereta api ini dipergunakan untuk mengangkut barang-barang dari Sumatera Barat menuju kota Pekanbaru untuk selanjutnya dikirim menggunakan kapal.
Proyek pembangunan jalur kereta api ini banyak menimbulkan korban jiwa. Dan pembangunan jalur ini dibawah penjajahan Jepang, 1942-1945, dari Muaro – Sijunjung, Sumatera Barat, menuju Pekanbaru, Riau.
Jalur ini membutuhkan sepanjang ribuan kilometer dan memakan korban 80 ribu jiwa romusha, di Koto Kombu, Lubuk Ambacang, Hulu Kuantan, Kuantan Singingi, Riau.
Tumbal proyek manusia di masa penjajahan Jepang ini adalah orang-orang rantai. Mereka merupakan tahanan Jepang dan disiksa.
Teranyar, ditemukannya dua terowongan serta pertemuan rel kereta api yang dibangun selama pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Terowongan ini digunakan untuk menghadapi Perang Dunia II di Sungai Ngeawan, Desa Koto Kombu, Kenegerian Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).
Kedua terowongan tersebut panjangnya lebih dari 100 meter membelah perut deretan Bukit Barisan serta satu lagi 20 meter, kini hanya tinggal lubang saja.
Kedua bukti sejarah tersebut, dua terowongan dan pertemuan rel kereta api Muaro-Pekanbaru, ditemukan berdasarkan studi literatur oleh peneliti kereta api dari Selandia Baru (New Zealand), Jammie Vincent Farrel.

Tumbal pembangunan jembatan
Selain itu, ada juga tumbal kepala anak manusia. Dan ini dilakukan sebagai penopang agar jembatan yang berdiri dapat kokoh dan bertahan lama.
Salah satunya yang terjadi dalam cerita masyarakat adalah di masa penjajahan Belanda. Ada satu jembatan yang dibangun di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Jembatan ini dinamai Jembatan Lobu.
Jembatan yang dibangun pada tahun 1940 ini ternyata memiliki legenda tentang pekatnya kisah magis dalam proses pembuatannya.
Menurut cerita masyarakat setempat, jembatan ini ditopang oleh enam tiang yang konon dahulu tiang-tiang penopang jembatan bukanlah tiang biasa. Tiang-tiang dibangun dengan tumbal kepala manusia. Dan tumbal itu dikatakan mampu memperkokoh jembatan sehingga tak usang dimakan jaman.
Dikutip dari keterangan Ki Geni Seketi seperti melansir 99.co, menyebutkan tentang persembahan tumbal.
Tumbal proyek pernah terjadi saat dia menangani kasus perjanjian tumbal seseorang di sebuah pembangunan pabrik perusahaan ternama di kota S.
Mulanya, di tempat proyek tersebut kerap terjadi tragedi kecelakaan kerja yang mengerikan meskipun aspek keselamatan terjamin.
Kemudian, Ki Geni mengaku kalau dia diminta pertolongan untuk menelusuri kejadian aneh di lokasi proyek.
“Mereka meminta saya untuk mencari tahu penyebab tak masuk akal yang kerap terjadi di tempat tersebut dan akhirnya saya pun mencoba melakukan penelusuran,” ungkapnya.

Tumbal kepala kerbau
Ki Geni mengatakan bahwa saat melakukan proses penelusuran, terungkap kalau pelaksanaan proyek tersebut ada sebuah perjanjian dengan makhluk gaib.
Tumbal proyek tersebut berupa kepala kerbau demi kelancaran pembangunan.
“Dulunya tempat itu jadi persembahan dan setelah saya cari tahu, memang ada persembahan 3 kepala kerbau yang dikubur di sudut-sudut lokasi pembangunan, namun ketika jabatan orang tersebut digantikan oleh lainnya, ritual pun berhenti,” ujar Ki Geni.
Ketika ritual tumbal dihentikan, terjadi hal-hal aneh termasuk kecelakaan kerja tanpa sebab sehingga proses pengerjaan menjadi lambat.
Hingga satu waktu, pimpinan proyek baru di sana mengalami kejadian mistis meskipun awalnya acuh terhadap hal tersebut.
Ki Geni mengaku bahwa dia pun melakukan pembersihan lokasi guna memutus perjanjian tumbal.
“Dalam setiap perjanjian pasti harus ada yang dikorbankan, apalagi ketika manusia menuntut sesuatu kesenangan secara instan kepada makhluk yang bukan semestinya. Makhluk halus kan suka darah, tulang, kotoran, jadi ketika tak ada persembahan untuk mereka, yang lainlah menjadi korban,” kata Ki Geni.
Disisi lain, sebagian masyarakat percaya bahwa tumbal akan terus terjadi setiap tahunnya. Persembahan ini bisa terjadi melalui kecelakaan yang menyebabkan meninggalnya seseorang saat akan melintasi kawasan hasil pembangunan tersebut.
Akan tetapi, bagi kita umat Muslim, seharusnya menjadikan itu adalah hal yang tidak dipercaya. Semuanya hanya perlu dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Taala. Terkait kecelakaan atau adanya korban jiwa merupakan jalan yang telah ditentukan Allah. []