ARASYNEWS.COM, SIAK – Mahasiswa kuliah kerja nyata (kukerta) kelompok Eureka FMIPA Universitas Riau menggelar kegiatan workshop pupuk cair organik (POC) dan teh herbal dari daun senduduk untuk inovasi desa. Kegiatan ini dipusatkan di aula Kampung Langkai, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Jum’at (6/2/2026) pukul 14.00 WIB.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang pemanfaatan limbah organik dan sumber daya alam melimpah yang jarang diketahui manfaatnya.
Kegiatan ini pun sejalan dengan tujuan pembangunan keberlanjutan (SDGs) poin pertama, yakni tanpa kemiskinan, dan poin keduabelas tentang produksi dan konsumsi yang bertanggungjawab.
Kegiatan diawali dengan pembukaan secara formal oleh MC dan kemudian kata sambutan oleh ketua pelaksana.
“Harapannya, kegiatan ini menjadi satu langkah kecil untuk dampak yang lebih besar bagi kampung langkai,” ujar M. Fajar selaku ketua dari kelompok kukerta Eureka.
Selanjutnya memasuki pemberian edukasi tentang daun senduduk yang memiliki banyak manfaat, salah satunya kaya akan antioksidan dan bisa dimanfaatkan menjadi teh herbal.
Fajar menerangkan, metode yang digunakan tidak sulit, cukup mengeringkan daun senduduk yang telah dipetik selama 2-3 hari di bawah sinar matahari atau bisa menggunakan oven untuk mengeringkan dengan suhu rendah 40°-50° C selama 1-2 jam.
Kemudian daun yang telah kering tersebut dihaluskan menggunakan blender atau mesin chopper. Daun yang telah halus dimasukan ke dalam kantong teh celup. Dan daun pun sudah siap untuk diseduh.

Selanjutnya tentang pembuatan Pupuk Cair Organik dari bahan limbah organik rumah tangga seperti sisa sayur dan buah-buahan. Pembuatan pupuk organik cair (POC) diawali dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan, seperti wadah fermentor bertutup, bahan organik, air, gula, air cucian beras dan EM4.
Tahapannya, bahan organik berupa sisa sayuran dan buah kemudian dirajang kecil-kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat, lalu dimasukkan ke dalam wadah fermentor. Selanjutnya, molase atau bisa juga menggunakan gula merah dilarutkan terlebih dahulu ke dalam air hingga tercampur merata, kemudian ditambahkan EM4 dan diaduk kembali agar mikroorganisme aktif. Setelah itu, air cucian beras ditambahkan ke dalam larutan tersebut sebagai sumber nutrisi tambahan bagi mikroorganisme.
Campuran air gula, EM4, dan air cucian beras kemudian dituangkan ke dalam wadah yang telah berisi bahan organik hingga seluruh bahan terendam. Setelah semua bahan tercampur, larutan diaduk secara perlahan agar homogen, lalu wadah ditutup rapat untuk menciptakan kondisi fermentasi anaerob.
Proses fermentasi dilakukan selama kurang lebih 14 hari untuk fermentasi jangka pendek, namun untuk mendapatkan hasil pupuk organik cair yang lebih optimal dan stabil. Fermentasi dapat dilanjutkan hingga 1–2 bulan. Selama proses fermentasi, wadah perlu dibuka setiap dua hari sekali untuk membuang gas yang terbentuk, kemudian ditutup kembali dengan rapat hingga POC siap digunakan.
Tak hanya menjelaskan cara pembuatan, Kelompok Kukerta Eureka bersama masyarakat kampung Langkai langsung mempraktikkan cara penggunaan pupuk ini di tanaman yang ada dalam kantor Bupati Siak. Warga yang ikut dalam kegiatan ini pun bersemangat dan menerima dengan baik kegiatan yang diadakan.
Harapannya kegiatan ini bukan hanya menjadi cara yang bermanfaat untuk mengolah limbah organik rumahan dan memanfaatkan potensi alam namun juga mampu menjadi ide untuk bisnis sebagai jalur perputaran ekonomi nantinya di kampung Langkai Siak.
[Rls]