ARASYNEWS.COM, PEKANBARU – Penjabat (Pj) Walikota Pekanbaru Muflihun, mengatakan kualitas udara di Kota Pekanbaru mulai tidak sehat beberapa hari belakang. Maka dari itu ia meminta agar warga untuk saling menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dikutip dari data situs bmkg.go.id., kualitas udara Kota Pekanbaru pada pukul 07.00-08.00 WIB pagi tadi, Senin (7/8/2023) kualitas udara Pekanbaru berada di kategori tidak sehat.
Pada pukul 07.00 WIB, kualitas udara di Pekanbaru berada di zona kuning atau kategori tidak sehat, dengan konsetrasi partikulat PM2.5 mencapai 92.10 ugram/m3 dan pada pukul 08.00 WIB turun sedikit menjadi 86.50 ugram/m3.
Kemudian pada pukul 09.00 WIB kualitas udara di Pekanbaru kembali ke zona biru dengan konsentrasi partikulat 52.70 ugram/m3.
Sekitar pukul 09.00 WIB pada Senin (7/8/2023), terlihat kabut menyelimuti Kota Pekanbaru dan jarak pandang hanya sekitar 700 meter. Hanya saja, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastkan kabut yang menyelimuti Kota Pekanbaru bukan asap. Hal itu disampaikan Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru Sanya G bahwa fenomena tersebut adalah haze.
“Dari observasi di stasiun, terpantau haze atau udara kabur akibat partikel kering yang mengambang,” kata Sanya dalam keterangannya.
Sanya memastikan bahwa kabut tersebut bukan fenomena asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Parameter cuaca lain belum mengarah pada fenomena asap,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan pantauan terakhir hingga pukul 09.00 WIB juga belum ada tanda-tanda asap.
“Saat ini visibility pukul 09.00 WIB sudah 8 kilometer. Sudah membaik, artinya kekaburan udara lebih dominasi ke haze bukan asap,” pungkasnya.
Disisi lain, Pj Walikota Pekanbaru Muflihun mengimbau agar masyarakat menjaga lingkungan masing-masing.
“Hari ini memang situasi alam kita sudah masuki musim panas. Kepada masyarakat tolong jaga lingkungannya, jangan buang api sembarangan. Apalagi yang berada di kawasan hutan atau banyaknya gambut, jangan sampai buang api tidak pada tempatnya,” ujar Muflihun, Senin (7/8/2023).
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar. Jika lahan yang terbakar itu adalah gambut, maka akan sulit untuk memadamkannya.
“Karena api gambut berjalan di dasar, sulit padam. Kita khawatir jangan terulang lagi kejadian tahun tahun sebelumnya. Bahkan transportasi udara tidak bisa masuk ke Pekanbaru ini,” kata Muflihun.
Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Karhutla di Pekanbaru, pihaknya mengapresiasi TNI, Polri, Camat yang selalu menginformasikan lokus kebakaran, sehingga tidak merebak di Kota Pekanbaru.

Dalam pantauan BMKG hari ini, Hotspot atau titik panas yang diperkirakan karhutla di Pulau Sumatera hari ini Senin (7/8/2023) tercatat sebanyak 247 titik hotspot.
Riau merupakan provinsi tertinggi hotspotnya hari ini Senin (7/8/2023) dengan jumlah 54 titik panas.
Dilansir BMKG Stasiun Pekanbaru Senin pagi 7 Agustus 2023, total hotspot Sumatera sebanyak 247 titik. Aceh 3 titik, Sumatera Utara 1, Sumatera Barat 20 titik, Jambi 33, Kepulauan Riau 4, Bengkulu 9, Sumatera Selatan 44, Bangka Belitung 45, Lampung 34, Riau 54 titik panas tersebar di Kabupaten Rokan Hulu 9 titik panas, Kampar 6, Kuantan Singingi 8, Pelalawan 6, Bengkalis 2, Siak 4 titik, Kepulauan Meranti 2, Indragiri Hulu 6, dan Kabupaten Indragiri Hilir 11 titik hotspot.
Info prakiraan cuaca Provinsi Riau, Senin 7 Agustus 2023, pagi hari cerah berawan-udara kabur. Siang-sore hari cerah berawan-berawan. Malam hari cuaca cerah berawan-berawan. Potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Kampar, Kabupaten Bengkalis, dan Kota Dumai.
Dini hari cuaca Riau cerah berawan-berawan. Potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai.
Peringatan Dini, suhu udara 24.0-34.0 °C, Kelembapan udara 55-98 persen. Angin, tenggara- barat daya/10-30 km/jam.
Prakiraan gelombang laut, prakiraan tinggi gelombang di perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.50 – 1.25 m (rendah).
Banyak masyarakat Riau berharap agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dan Pulau Sumatera tidak meluas. Jangan sampai terjadi lagi bencana asap tahun 2015 dan 2019 lalu terulang lagi di Riau. Apalagi El Nino sudah di depan mata.
El Nino adalah fase hangat dari El Nino-Osilasi Selatan dan dikaitkan dengan sekelompok air laut hangat yang berkembang di pusat dan timur-tengah Pasifik khatulistiwa, termasuk daerah di lepas pantai Pasifik Amerika Selatan. Ini menyebabkan kekeringan dan kemarau di sebagian wilayah Indonesia dan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). []