ARASYNEWS.COM – Puncak pesta demokrasi akan berlangsung pada Rabu, 14 Februari 2024. Berbagai konflik adu argumen pendapat telah disampaikan. Bahkan ada pula yang saling menjatuhkan menyudutkan.
Terkait hal ini, ada beberapa nasihat bagi umat muslim. Salah satunya adalah tetap terus menjalankan ibadah kepada Allah.
Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadist, Rasulullah ﷺ bersabda,
العِبادةُ في الهرَجِ كالهِجرةِ إليَّ
“Beribadah dalam situasi kacau, pahalanya seperti berhijrah kepadaku.” (HR. At-Turmudzi 2201).
Seorang muslim masih bisa mendapatkan pahala seperti seorang yang berhijrah kepada beliau. Yaitu, dengan cara seorang muslim tetap menjaga ibadahnya kepada Allah.
Tetaplah khusuk melakukan ketaatan kepada Allah walaupun kondisi yang terjadi di tengah masyarakat sedang berjalan tidak normal.
Jangan sampai perhatian kita terfokus sepenuhnya dalam urusan politik, sementara dalam urusan ibadah dan yang lainnya kita tinggalkan.
Selain itu, kini kerap terlihat kondisi saling bermusuhan, ketegangan antara saru sama lain.
Allah selalu memerintahkan kita untuk menjaga persatuan dan persahabatan dengan sesama muslim. Dan kita juga diperintahkan untuk menjaga ketenangan di lingkungan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS Ali Imran: 103).
Dan yang namanya permusuhan, kalau tidak selesai di dunia ini, akan Allah ulang kembali di akhirat persis kejadiannya seperti apa. Nantinya akan Allah adili. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ * إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar: 30-31).
Ada satu kisah di zaman Rasulullah, seorang sahabat Zubair bin al-Awwam radhiallahu ‘anhu mengatakan,
أَيْ رَسُوْلَ اللهِ، أَيُكَرِّرُ عَلَيْنَا مَا كَانَ بَيْنَنَا فِي الدُنْيَا مَعَ خَوَاصِ الذُنُوْبِ ؟
“Wahai Rasulullah, apakah sengketa yang terjadi di antara kita pada hari kiamat nanti akan diulang disamping kita juga mempertanggung-jawabkan dosa dari diri kita sendiri”?
Kemudian Rasulullah menjawab
نَعَمْ لَيُكَرِّرَنَّ عَلَيْكُمْ، حَتَّى يُؤَدِّيَ إِلَى كُلِّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ
“Iya, akan diulangi. Hingga setiap orang yang memiliki hak akan memperoleh haknya masing-masing.” Kemudian Zubair bin al-Awwam langsung berkomentar,
وَاللهِ إِنَّ الْأَمْرَ لَشَدِيْدٌ
“Demi Allah, jika seperti itu tentu urusannya akan sangat berat.”
Karena itu menghindar dari sengketa itu lebih baik dibanding seseorang yang tetap maju tatkala melihat ada potensi perselisihan, permusuhan, dan keributan.
Rasulullah ﷺ menjamin bagi orang-orang yang mundur dari perdebatan yang ujungnya adalah keributan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar.” [HR. Abu Dawud 4167].
Terkait adanya penghinaan, nanti akan ada pertanggung-jawaban di akhirat dan itu mengurangi nilai pahala yang dimiliki.
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits menyebutkan tentang orang yang muflis, orang yang bangkrut pada hari kiamat nanti. Beliau mengatakan,
إنَّ المُفلسَ من أُمَّتي مَن يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ ، وزكاةٍ ، ويأتي وقد شتَم هذا ، وقذَفَ هذا ، وأكلَ مالَ هذا ، وسفكَ دمَ هذا ، وضربَ هذا ، فيُعْطَى هذا من حَسناتِه ، وهذا من حسناتِه ، فإن فَنِيَتْ حَسناتُه قبلَ أن يُقضَى ما عليهِ ، أُخِذَ من خطاياهم ، فطُرِحَتْ عليهِ ، ثمَّ طُرِحَ في النَّارِ
“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah mereka yang nanti pada hari kiamat datang dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat. Selain itu, ia juga membawa dosa mencela si A, menuduh si B, makan harta si C, menumpahkan darah D, memukul E, lalu pahala kebaikannya tadi bagi-bagikan kepada A,B,C,D, dan E. Kalau pahala kebaikannya habis sementara tanggungan dia belum tertunaikan, diambillah dosa-dosa orang-orang yang dia zalimi tadi, lalu ditanggungkan kepadanya. Lalu ia dilemparkan ke neraka.” [HR Muslim 2581].
Untuk pemimpin
Keberadaan pemimpin yang ada di sekitar kita merupakan cerminan dari perbuatan yang beredar di tengah masyarakatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi orang zalim yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS Al-An’am: 129).
Allah akan menganugerahkan pemimpin yang baik. Demikian juga sebaliknya, rakyat yang buruk pasti akan memilih pemimpin yang buruk.
Yang program-programnya sesuai dengan syahwat dan keinginan mereka.
Dikutip dari para ulama yang memberikan kaidah,
كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ
“Sebagaimana kondisi kalian, maka seperti itulah kondisi pemimpin yang akan memimpin kalian.”
Dengan demikian, pemimpin adalah bagian dari elemen masyarakat. Kalau masyarakatnya baik, Allah akan menganugerahkan kepada mereka pemimpin yang baik. Dan demikian sebaliknya.
Sehingga, tatkala kita berharap pemimpin yang baik, kita harus berusaha memperbaiki diri kita, memperbaiki masyarakat, dengan cara mengingatkan mereka agar bersama-sama kembali ke jalan Allah Ta’ala.
Ini tidak hanya disampaikan kepada kalangan pemerintah tapi kepada masyarakat secara umum.
Selanjutnya, tatkala seseorang telah menjadi pemimpin yang baik, maka tugas rakyat adalah menjadi rakyat yang baik. Salah satunya yaitu menghormati pemimpinnya.
Dalam hadits Riwayat Imam Muslim, Baginda Nabi bersabda,
السُلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللهُ
“Pemimpin adalah naungan Allah di muka bumi. Siapa yang memuliakan pemimpin, Allah akan memuliakannya. Dan siapa yang menghinakan pemimpin, Allah juga akan menghinakannya.” (HR. Muslim).
Pernah di masa kepemimpinan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ada banyak sekali orang yang menghina Utsman.
Salah seorang ulama generasi tabi’in yang bernama Abdullah bin Amir bin Rabi’ah mengatakan, “Ayahku termasuk di antara orang yang tidak mau menghina Utsman. Sampai ia berdoa di shalat malamnya, ‘Ya Allah, lindungilah aku dari segala bentuk fitnah. Sebagaimana engkau lindungi orang-orang shaleh dari segala bentuk fitnah’.”
Abdullah bin Amir menceritakan, “Allah melindungi ayahku sehingga beliau tidak mengalami sakit hingga kematiannya.”
Disinilah Allah melindungi seorang hamba. Dalam keadaan masyarakat pada umumnya menghina pemimpinnya. Namun, beliau tetap bersabar untuk tidak memberikan penghinaan kepada pemimpinnya.
Selain itu, saat sekarang ini, kita sebagai umat muslim yang bertaqwa, perlu memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala. Sebab seorang pemimpin itu ditunjuk oleh Allah. Dengan takdir dan hikmahnya Allah menjadikan salah seorang dari tiga pilihan yang ada saat ini yang akan menjadi pemimpin.
Dalam situasi politik saat ini, kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya. Siapa yang akan menjadi pemenang. Dalam kondisi seperti ini, kita serahkan harapan kita kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin yang baik.
Rasulullah ﷺ mengajarkan
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Dan janganlah Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami sebagai pemimpin kami’.”
Kita memohon kepada Allah, agar Allah menjadikan negera kita negeri yang aman, rakyat yang bersyukur, dan pemimpin-pemimpin yang sayang kepada rakyat, adil, dan amanah dalam mengemban jabatannya.
Dan yang paling penting bagi kita semua, bahwa Rasulullah memberikan peringatan keras terhadap aktivitas sogok-menyogok yang dibalut dengan berbagai istilah seperti bantuan. Sampai-sampai Baginda melaknat, sebagaimana dalam sebuah hadits,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ
“Rasulullah melaknat seorang yang menyogok, yang disogok, dan menjadi perantara sogok.” [HR. Ahmad].
Daei hadist ini, para ulama menyampaikan, apabila ada seorang calon yang menjadi bagian dari pemilihan lalu memberi sesuatu apapun bentuknya kepada masyarakat, baik uang, barang, ataupun jasa. Maka itu statusnya adalah sogok.
Rakyat yang menerima ini dilaknat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga calon yang memberi dan perantaranya.
Oleh karena itu, tidak benar ungkapan seseorang ambil duitnya lalu coblos sesuai pilihan.
Karena semua itu dilaknat oleh Rasulullah ﷺ
Maka dengan itu, mari kita menyikapi pemilu ini ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, agar Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang baik.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita pemimpin yang bertakwa kepada Allah dan sayang kepada rakyatnya. Dan menjadikan negara kita ini aman, adil, dan makmur.
[]
Dikutip khotbah Ustadz Ammi Nur Bait