Misteri Tepian Sungai Siak, Ada Bukit Benteng Kerajaan dan Makam Puteri

ARASYNEWS.COM – Sangai Siak memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan pada zaman dahulu. Dan juga membuat berdiri dan berkembangnya beberapa pemukiman penduduk dan kota di Riau.

Sungai Siak memiliki lebar 100-150 meter dengan kedalaman 20-30 meter dan dengan panjang sekitar 527 kilometer. Ternyata sungai ini hanya 300 Kilometer yang dapat dilayari. Dan jika dilihat dari atas, sungai ini mengalir dari arah Barat ke Timur dengan tenang.

Dan sampai saat ini, Sungai Siak masih dapat dimanfaatkan sebagai jalur transportasi air untuk menghubungkan wilayah aliran Sungai Siak, yaitu Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Siak Sri Indrapura.

Dalam perkembangannya, Sungai Siak menjadi tempat wisata yang memiliki potensi besar untuk menjadi tempat wisata.

Sungai Siak saat ini berwarna kecoklatan, keruh, dan terlihat kehitaman, hal ini selain karena terkandung rawa gambut dan juga karena sudah tercemar akan sampah dan polusi air dari rumah tangga dan pabrik.

Namun di balik itu semua, Sungai Siak ternyata memiliki kisah unik sekaligus legenda mistis tersendiri.

Airnya yang begitu keruh, tidak didukung dengan derasnya arus pada bagian bawahnya dan menambah nuansa angker sungai ini.

Ada banyak yang aneh yang terjadi pada sungai ini dan bahkan juga kerap memakan ‘tumbal’.

Konon, terdapat hewan-hewan misterius yang keluar dari dasar Sungai Siak. Cerita bermula dari adanya gajah putih yang selalu keluar dari perairan. Dan ada juga ikan duyung dan seekor hewan seperti naga yang pernah muncul ke permukaan. Namun, hewan-hewan itu akhirnya menghilang. Sebagian warga percaya bahwa hewan-hewan misterius itu adalah perwujudan dari makhluk halus yang mendiami perairan Sungai Siak.

Misteri lainnya yang melingkupi Sungai Siak adalah adanya sepasang buaya putih. Warga sekitar dikabarkan kerap melihat sepasang buaya putih yang mendiami sungai tersebut. Dan jika buaya putih tersebut menampakkan diri, maka itu merupakan pertanda akan terjadinya sesuatu yang besar. Keberadaan buaya putih ini dipercaya berkaitan erat dengan sosok raja yang mendiami Sungai Siak.

Tepian sungai Siak mayoritas adalah dataran rendah, tetapi ada satu bukit. Dan bukit ini dikenal dengan nama bukit kuning.

Bukit ini berada di sebelah kanan aliran sungai dan berada ditikungan aliran. Dan bagi para pengemudi kapal atau perahu biasanya mematikan mesin melintasi daerah ini.

Bagi masyarakat, dipercaya bahwa bukit ini adalah milik kerajaan Gasib, yakni benteng kerajaan yang pernah ada pada abad ke-14.

Ibukota kerajaan Gasib ini sendiri berlokasi di tepi anak sungai yang oleh warga disebut sebagai Gasib. Kerajaan ini sendiri adalah penerus dari kerajaan mahsyur yakni Sriwijaya.

Kerajaan Gasib sendiri merupakan kerajaan Hindu/Budha sebelum agama Islam masuk dan menjadi agama kerajaan.

Banyak sejarah dan kisah dengan berbagai versi diceritakan oleh masyarakat Kampung Adat Gasib.

Peninggalan istana Kerajaan Gasib konon berada di dalam anak Sungai Jantan yang disebut dengan Sungai Gasib. Kerajaan Gasib dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Bedagai dengan seorang panglima besar bernama Panglima Ghimbam dengan gelar Panglima Panjang.

Masyarakat dan kerajaan menjadi penganut Islam sejak di bawah kekuasaan Malaka hingga tahun 1723. Sejak itu daerah Siak dan sekitarnya di bawah penguasa Empayar (emperor) Johor Riau sebagai pewaris Kesultanan Malaka.

Kerajaan Gasib mempunyai daerah kekuasaan di sepanjang Sungai Siak (Sungai Jantan), sampai ke kuala ke arah Timur dan ke arah Barat Hulu Siak dari Bukit Suligi di Tapung Kanan dan Tapung Kiri yang terbatas dengan negeri Minangkabau.

Bahkan, kerajaan Gasib juga ada kaitannya dengan Putri Kaca Mayang. Kerajaan Gasib pernah menyerang Aceh dan mengambil kembali Puteri Kaca Mayang kemudian dipersembahkan kepada Raja Gasib.

Ada beberapa peninggalan Kerajaan Gasib selain Makam Putri Kaca Mayang, peninggalan tersebut adalah pecahan keramik dari negeri Cina yang diduga berasal dari Dinasti Sung atau Dinasti Ming. Nisannya yang terbuat dari batu berpahat menyisakan banyak cerita yang tak terungkap

Bukti peninggalan lainnya masih disimpan oleh seorang bendahara dari Batu Gajah di Tapung Kiri yakni berupa sebilah keris dan gagangnya yang merupakan hadiah dari Raja Gasib. Demikian pula bendahara dari Tadun yang menyimpan sebuah perisai diduga merupakan hadiah dari Raja Gasib.

Pemberian penghargaan seorang raja kepada wakil di wilayahnya merupakan wujud penghargaan yang tiada ternilai karena wakilnya dapat menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyatnya.

Kerajaan Gasib dalam menjalankan pemerintahan mengalami dua periode, yaitu periode masa pemerintahan di bawah raja yang beragama Hindu/Buddha, dan periode di bawah pemerintahan raja beragama Islam.

[]

You May Also Like