ARASYNEWS.COM – Kota Padang Panjang memiliki banyak peninggalan sejarah dalam perkembangan agama Islam di Sumatera Barat. Salah satunya adalah Masjid Asasi di Kelurahan Sigando Nagari Gunuang, Kecamatan Padang Panjang Timur.
Masjid Asasi ini dahulunya dikenal dengan nama Surau Gadang Sigando.
Tidak diketahui pasti kapan bangunan masjid didirikan. Catatan Kerapatan Adat Nagari setempat menyebutkan, Masjid Asasi didirikan pada 1770. Namun, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat merujuk tahun 1702 sebagai awal pendirian masjid.
Dalam catatan sejarah lainnya menyebutkan Masjid ini tercatat sebagai masjid tertua kedua di Indonesia yang berdiri pada tahun 1685 Masehi. Sementara masjid tertua, Masjid Saka Tunggal di Banyumas, Jawa Tengah yang dibangun sekitar tahun 1200.
Masjid ini didirikan oleh masyarakat dari 4 koto yaitu dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang. Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka pernah menggelar pengajian disini. Masjid Asasi memiliki 3 motif ukiran dari aliran yang berbeda yaitu Hindu, China dan Minangkabau.
Masjid ini merupakan masjid pertama di Nagari Gunung dan Kota Padang Panjang. Secara umum bangunan masjid masih belum mengalami perubahan signifikan.
Berdasarkan informasi masyarakat, pada awalnya atap masjid berbahan ijuk diganti menggunakan seng sekitar tahun 1905, serta penggantian dinding yang sudah lapuk pada tahun 1956.

Masjid Asasi memiliki denah dasar bujursangkar 13,1 x 13,1 meter persegi, dengan tambahan mihrab pada sisi barat berukuran 2,2 x 4,6 meter, serta serambi/beranda (pintu masuk) pada sisi timur berukuran 5 x 4,4 meter.
Pada sisi serambi ini terdapat 2 buah tangga masuk bangunan (sisi kiri-kanan) berbahan beton/coran semen. Pintu masuk bangunan terdapat pada sisi timur.
Secara keseluruhan jendela masjid berjumlah 14 buah dengan rincian: 2 buah di ssrambi yang masing-masing menghadap sisi utara dan selatan, bangunan utama 10 buah yang menghadap sisi utara 4 buah, selatan 4 buah dan timur 2 buah, serta 2 buah pada mihrab yang masing-masing menghadap sisi utara dan selatan.
Secara keseluruhan bangunan masjid ini ditopang oleh 9 buah tiang, dengan rincian 1 tiang soko guru pada bagian tengah serta 8 tiang lainnya yang mengelilingi tiang sosko guru (tiang soko guru ini berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya). Bagian dalam tiang soko guru berbahan kayu dengan bagian luarnya dilapisi beton/semen. Sedangkan 8 buah tiang lainnya berbahan kayu berbentuk bulat. Pada bagian atas dari tiang soko guru terdapat hiasan kelopak bunga matahari.

Atap masjid berbentuk tumpang (limas) dengan jumlah undakan 3 buah. Secara umum komponen bahan bangunan berbahan kayu serta beratap seng. Seluruh dinding bangunan dipenuhi dengan ragam hias motif flora. Pada sisi timur terdapat rumah bedug berukuran 3 x 2 meter, sebagai tempat menempatkan tabuh.

Masjid dikelilingi pagar besi di bagian selatan dan pagar tembok di bagian barat dan utara. Untuk memasuki area masjid, terdapat pintu gerbang di sebelah selatan.
Terpisah dari bangunan induk, terdapat bangunan panggung di sebelah utara seperti tempat penyimpanan padi. Bangunan ini digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa.[2]
Tempat wudhu berada di luar pagar, di bawah bangunan rumah garin masjid. Sumber air berasal dari mata air di sekitar masjid yang oleh masyarakat disebut “bulaan”. Pintu masuknya berada di sebelah barat, melalui tangga menurun.
Hingga kini, masjid ini selalu ramai dikunjungi sebagai tempat ibadah dan tempat belajar untuk menyiarkan agama Islam. []