ARASYNEWS.COM – 12 Agustus 2025, diperingati sebagai Hari Gajah Sedunia atau Global Elephant Day. Ini sebagai pengingat bahwa melindungi gajah berarti melindungi kehormatan kita, salah satunya gajah Sumatera. Jika mereka lenyap, maka sebagian dari wajah Sumatera ikut pudar. Melindungi habitatnya juga dapat memperkenalkan anak cucu kita dapat menyaksikan langsung satwa raksasa darat.
Pada tahun 2025 ini, kembali diperingati hari gajah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi gajah dan isu-isu yang berkaitan dengan kesejahteraan satwa gajah.
Saat ini, Pemerintah Indonesia tengah giat melakukan peningkatan populasi gajah dengan cara konservasi yang tersebar di berbagai wilyaha di Indonesia. Namun, upaya ini ternyata banyak tantangannya.
Berdasarkan data dari Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) dalam waktu tiga dekade terakhir, populasi gajah tercatat terus menurun.
Di tahun 1992 misalnya, tercatat ada 44 kantong habitat gajah dengan jumlah populasi mencapai 3.700 hingga 4.300 ekor gajah.
Di tahun 2021, habitat gajah menurun menjadi 22 kantong dan jumlah populasinya di angka 924 hingga 1.359 ekor.
Habitat gajah yang ada sebelumnya banyak yang sudah beralih fungsi ke perkebunan atau untuk pembangunan yang mengancam ruang hidup satwa itu.
Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur juga mengalami sejumlah tantangan. Upaya menaikkan populasi gajah berkejaran dengan angka kematian dari gajah-gajah itu sendiri.
Dalam periode 2020-2025, TNWK mencatat ada lima gajah yang lahir. Kelahiran gajah-gajah tersebut memberikan harapan terkait peningkatan populasi gajah.
Dan dalam periode yang sama, ada tujuh gajah jinak mati. Sebagian besar kematiannya disebabkan karena faktor usia dan komplikasi kesehatan yang kronis. Dan ada pula kematian yang tidak wajar, seperti disebabkan karena jerat luka, keracunan, hingga mengalami insiden yang alamiah.
Per bulan Agustus 2025, sebanyak 61 ekor gajah dirawat di TNWK. Gajah-gajah ini juga memiliki peran terpenting di antaranya untuk membantu patroli pengamanan kawasan, penghalauan gajah liar, serta edukasi konservasi bagi masyarakat.
Dikutip dari keterangan Pakar konservasi satwa liar dari IPB University, Burhanuddin Masyud, menyebutkan pentingnya upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah.
Ini menyusul insiden anak gajah mati tertabrak truk di Perak, Malaysia serta kasus serupa juga terjadi di Tol Pekanbaru–Dumai, Indonesia beberapa waktu lalu. Kasus tersebut menjadi peringatan tingginya risiko akibat tumpang-tindih antara habitat satwa liar dan infrastruktur manusia.
Konsep koeksistensi manusia dan gajah seperti di koridor Pekanbaru–Dumai merupakan bentuk konservasi realistis yang dapat dikembangkan. Pendekatan ini integratif, apalagi gajah dekat dengan manusia.
Saat ini pembangunan terowongan perlintasan gajah di Tol Pekanbaru–Dumai sebagai solusi konkret mitigasi konflik antara manusia dan gajah. Gajah memiliki pola pergerakan alami berulang sesuai musim, melewati jalur-jalur yang pernah dilaluinya dan akan terus berulang.
Risiko konflik juga ditemukan di jalan lintas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, yang menghubungkan Provinsi Lampung dan Bengkulu.
Pentingnya kebijakan mitigasi sistematis dan kolaboratif, yakni implementasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Areal Preservasi (koridor satwa) secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Selanjutnya, pengembangan pusat konservasi gajah sebagai lembaga konservasi eks situ yang berfungsi untuk pelestarian sekaligus wisata edukasi.
Pelestarian gajah Sumatera kini terancam punah dan hanya dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif dan inovatif.
“Dunia konservasi tidak boleh berdiri sendiri. Kita harus mampu menyelaraskan pembangunan dan kelestarian alam secara seimbang,” dikutip dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam. []