Karhutla di Riau, Satwa Mengungsi

ARASYNEWS.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Riau pada bulan Agustus 2026 berdampak pada kawasan habitat satwa liar seperti di Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, meskipun begitu, BBKSDA Riau klaim belum ada satwa di SM Kerumutan yang terdampak korban langsung api dari karhutla.

Adapun luas area yang terbakar hasil akumulasi hingga akhir Agustus 2026 telah mencapai belasan ribu hektare (sekitar 16.200-an hektare), termasuk area konservasi di SM Kerumutan yang sempat mencakup ratusan hektare.

BBKSDA Riau menyatakan memperkuat patroli dan pemadaman di sekitar habitat satwa dilindungi seperti harimau sumatra. Sejauh penanganan, belum ada laporan korban langsung satwa akibat jilatan api, namun ancaman kehilangan ruang hidup dan migrasi satwa tetap tinggi.

Dan kini, petugas pemadam gabungan telah kembali ke tempat semula dikarenakan sudah selesai bertugas dan sudah tidak lagi ditemukan titik api.

Berdasarkan laporan Menteri Kehutanan, karhutla pada bulan Agustus mengalami penurunan untuk wilayah Riau. Dan tercatat nol hotspot per 31 Agustus 2026.

“Titik panas (hotspot) di Riau sudah tercatat nol berkat kerja keras Satgas gabungan melakukan pendinginan lahan gambut dan Operasi Modifikasi Cuaca,” dikutip dari keterangan Menhut, Selasa (1/9).

Karhutla ini tentunya melanda kelestarian keanekaragaman hayati di Riau. Karhutla ini juga mengganggu habitat satwa dan mereka berpindah ke area yang aman.

Di SM Kerumutan (misalnya), terdapat populasi harimau dan gajah.

Dari keterangan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, menyebut bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya satwa yang menjadi korban langsung dari kobaran api. Kendati demikian, munculnya titik api di dalam kawasan lindung tetap menjadi prioritas penanganan paling krusial.

“Sebelumnya, tim Satgas Udara sempat berhasil memadamkan pergerakan api melalui aksi bom air (water bombing) pada akhir pekan lalu di di SM Kerumutan. Luas itu sekitaran 5 hektare, itu lahan gambut,” kata Supartono.

Tim, kata dia, juga tidak menemukan satwa-satwa di sekitar area itu. Dan ia juga menyebutkan bahwa tim akan terus melakukan pemantauan demi memastikan keselamatan satwa dan ekosistem.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like