ARASYNEWS.COM – Biasanya makhluk hidup yang mati dan tertimbun dengan tanah maka akan membusuk dan hancur. Tetapi yang mati dapat saja menjadi fosil apabila segera tertutup oleh sedimen. Sedimen berupa mineral seperti kuarsa, silika, besi, dan lainnya.
Fosil kayu merupakan temuan kayu keras yang membeku karena semua bahan organiknya telah tergantikan oleh mineral, namun struktur kayunya tetap terjaga.
Proses fosil kayu dapat terjadi di dalam tanah, ketika kayu terkubur di bawah lapisan sedimen. Air yang banyak mengandung mineral masuk ke dalam sel-sel tanaman dan sementara lignin (zat komponen penyusun kayu) dan selulosa (komponen struktur utama dinding sel tanaman hijau) membusuk, mereka digantikan oleh batu.
Fosil kayu terbentuk melalui permineralisasi secara kimia dan fisika melalui proses panjang dan lama. Hewan dan tumbuhan yang mati dapat menjadi fosil apabila segera tertutup oleh sedimen.
Sedimen berupa mineral seperti (kuarsa, silika, besi, kalsit) yang terbawa oleh air masuk melalui dinding sel-sel kayu (imprenasi). Proses panjang ini kemudian membuat struktur kayu menjadi keras seperti batu.
Dikutip dari penelitian Mandang dan Martono (1996), fosilifikasi hewan dan tumbuhan terjadi akibat timbunan pasir dan lahar yang keluar dari letusan gunung api, banjir besar atau longsor. Seluruh material akan terkubur dan tidak mendapatkan asupan oksigen sehingga tidak terjadi pelapukan dan organisme atau jasad renik (jamur dan bakteri).
Oleh karena material penimbun mengandung bahan logam atau bahan anorganik (metal dan garam mineral), maka selama penimbunan terjadi intrusi ke dalam material zat kayu, dan terjadi pertukaran ion yang berlangsung lama sehingga partikel batuan mineral metal mengendap dan menggantikan susunan atom karbon (C), hidrogen (H), oksigen (0) serta nitrogen (N). Dalam waktu yang lama struktur kayu akan dibentuk oleh material bahan batuan mineral sehingga menjadi fosil kayu atau terawetkan.
Lalu, apabila terjadi erosi kembali, fosil-fosil tersebut kemudian dapat tersingkap dan ditemukan di permukaan. Begitulah proses pembentukan fosil kayu.
Perlu diketahui bahwa keberadaan fosil kayu saat ini banyak dimanfaatkan untuk tujuan komersil sehingga dapat mengancam eksistensinya. Sejatinya, pemerintah melakukan upaya serius dalam menjaga fosil sebagai bagian dari kekayaan alam. Terlebih karena fosil merupakan benda langka, penting dan memiliki nilai historiografi tinggi. Saat ini fosil kayu banyak ditemukan di Lewiliang Jawa Barat.
Di Riau
Fosil kayu yang membatu (petrified wood) di Riau merupakan bukti sejarah geologi purba di mana material organik kayu tergantikan oleh mineral, seperti silika, selama jutaan tahun.
Temuan ini sering kali menunjukkan tekstur kayu yang masih asli namun keras seperti batu, dan dipamerkan sebagai kekayaan geologi di museum seperti Museum Sang Nila Utama.
Beberapa poin penting mengenai fosil kayu membatu di wilayah tersebut:
Proses Terbentuknya: Fosil kayu terbentuk melalui proses petrifikasi, di mana jaringan kayu tertimbun sedimen dan mineral silika masuk ke dalam pori-pori kayu, menggantikan materi organik.
Temuan fosil kayu ini sering kali mempertahankan bentuk batang pohon asli, serat, dan warna cokelat atau hitam pekat, serta sangat keras.
Fosil ini menjadi bukti perubahan lingkungan purba di Riau dan Sumatra pada umumnya.
Di wilayah Sumatera, fosil kayu yang membatu sering ditemukan tertanam dalam tanah atau batuan sedimen.
Fosil kayu ini juga sering diburu kolektor sebagai batu akik karena seratnya yang unik.
Koleksi penampakan fosil ini yang ada di Museum Sang Nila Utama, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, menyimpan dan memperlihatkan jejak sejarah di Riau.
Fosil-fosil ini, baik bebatuan dan kayu yang telah menjadi batu menjadi bukti perubahan lingkungan serta perkembangan kehidupan purba yang pernah terjadi di kawasan Riau.
Salah satu fosil yang menarik perhatian adalah fosil kayu yang telah mengalami proses mineralisasi sehingga berubah menjadi batu.
Tekstur dan warnanya mengindikasikan bahwa Riau pada masa lalu pernah memiliki ekosistem hutan purba yang luas dan kaya spesies.
Tidak hanya fosil, museum juga menampilkan koleksi yang menunjukkan kekayaan sumber daya energi di Riau, termasuk minyak bumi. Koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai sejarah eksplorasi serta pemanfaatan sumber daya alam dalam perkembangan ekonomi daerah.
Koleksi geologi museum mencakup berbagai sampel batuan seperti bauksit, diorit, batu gamping, batu pasir, timah, bentonit, konglomerat, granit, lempung, dan sekis kristalin. Termasuk pula batu bara dan batuan reservoir yang biasa ditemukan dalam struktur geologi penghasil minyak.
Selain koleksi batuan, museum juga menampilkan sampel kayu dari berbagai jenis pohon khas Riau. Di antaranya adalah kempas, ramin, gerunggang, balam nyotoh, mahang, sendok-sendok, bentangor, perupuk, rengas, dara-dara, dan sungkai yang masing-masing memiliki nilai ekologis dan sejarah tersendiri.
[]