ARASYNEWS.COM – Bulan Syawal adalah bulan kesepuluh dalam kalender Hijriah yang jatuh setelah Ramadan, dimaknai sebagai bulan kemenangan (Idulfitri) dan peningkatan kualitas ibadah serta ketakwaan.
Secara bahasa, Syawal berarti peningkatan, menandakan ajakan untuk meningkatkan amal kebaikan setelah ditempa sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Perayaan Idulfitri 1 Syawal, sebagai momentum kembalinya umat Islam pada fitrah (suci) setelah berpuasa sebulan penuh, yang diisi dengan shalat Id, halal bihalal, dan saling bermaafan.
Syawal bukan akhir ibadah, melainkan kesempatan untuk merawat dan meningkatkan konsistensi ibadah (istiqamah) yang telah dibangun selama Ramadan, seperti menjaga shalat jamaah, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.
Di Indonesia, bulan ini lebih banyak silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan dan menyucikan hati. Dan bahkan ada juga yang mempererat hubungan dengan melangsungkan pernikahan.
Selain itu, yang paling penting adalah melaksanakan amalan yang paling utama. Yakni puasa enam hari di bulan Syawal, jika ditambahkan dengan puasa Ramadhan, pahalanya setara dengan puasa selama setahun penuh.
Allah SWT berfirman:
-pada QS. Al-Baqarah ayat 185, yang pada bagian akhir, memerintahkan umat Islam untuk mengagungkan Allah dan bersyukur atas selesainya bulan Ramadhan, yang menjadi dasar takbiran dan amalan di bulan Syawal.
“…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (hari Ramadhan) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.”.
-dalam QS. Al-Insyirah ayat 7-8 dianjurkan untuk diamalkan dalam bulan Syawal untuk terus bekerja dan meningkatkan amal setelah Ramadhan berlalu.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap”.
-perintah mengingat Allah dengan berzikir, yang disampaikan dalam QS. Al-A’raf ayat 205 yang menjadi landasan untuk tetap berdzikir dan menjaga ibadah di bulan Syawal.
“Dan ingatlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut (kepada Allah), dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
Beberapa Kesalahan yang dilakukan Pasca IdulFitri
Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan dan terjadi serta tidak sesuai dengan syari’at Islam, salah satunya adalah berpuasa tepat pada hari raya IdulFitri 1 Syawal.
Kesalahan lainnya yang dilakukan, dan bahkan menjadi kebiasaan adalah secara sengaja berpuasa pada hari IdulFitri.
Meninggalkan shalat Jum’at (Jika Idul Fitri Jatuh pada Hari Jumat). Sebagian orang beranggapan bahwa setelah shalat IdulFitri, kewajiban shalat Jum’at gugur. Hal ini keliru bagi laki-laki yang wajib Jum’at, kecuali bagi yang memiliki keringanan (seperti musafir).
Berlebihan dalam bermaaf-maafan atau memaksa bermaaf-maafan dengan cara yang tidak sesuai syariat, seperti bersalaman antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram (ikhtilat/khalwat).

Melakukan tradisi yang tidak ada dasar syariatnya, seperti merayakan lebaran dengan ritual tertentu yang tidak disyariatkan, misalnya memaknai lebaran ketupat (8 Syawal) sebagai keharusan, padahal puasa syawal boleh dilakukan langsung sejak 2 syawal.
Kembali ke kebiasaan buruk Ramadhan, diantaranya berhenti dari kebiasaan ibadah shalat berjamaah dan baca Al-Qur’an. Langsung setelah Ramadhan usai, seolah-olah ibadah hanya untuk bulan Ramadhan saja.
Melakukan pesta yang mengandung maksiat, yakni merayakan lebaran dengan musik keras, menari-nari yang tidak senonoh, atau perayaan yang berlebihan (mubazir).
Menganggap Idul Fitri sebagai ajang untuk “suci kembali” secara otomatis tanpa memperbaiki diri, padahal sejatinya adalah kembali pada ketaatan.
Kesalahan lainnya yang dilakukan setelah atau saat Lebaran IdulFitri
- Meninggalkan ibadah sunnah
Salah satu kesalahan paling umum adalah berhentinya amalan yang sebelumnya rutin dilakukan selama Ramadhan, seperti qiyamul lail, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an.
Padahal, dalam ajaran Islam, amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit lebih utama dibandingkan yang besar tetapi tidak berkelanjutan.
- Mengabaikan puasa Syawal
Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan besar, bahkan disamakan dengan pahala puasa setahun penuh. Sayangnya, banyak yang melewatkannya dengan berbagai alasan, seperti kesibukan atau rasa malas.
Padahal, puasa ini dapat dilakukan secara fleksibel selama bulan Syawal, tidak harus berturut-turut.
- Menurunnya semangat ke Masjid
Selama Ramadhan, masjid dipenuhi jama’ah. Namun setelahnya, suasana tersebut sering berubah drastis. Shalat berjamaah kembali ditinggalkan, khususnya oleh kaum laki-laki.
Kondisi ini menjadi tanda menurunnya semangat ibadah yang sebelumnya begitu kuat.
- Tidak lagi membaca Al-Qur’an
Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Namun setelahnya, interaksi dengan kitab suci ini sering kali terhenti.
Padahal, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang pahalanya terus mengalir dan menjadi syafaat di hari akhir.
- Kembali pada ghibah dan gosip
Kesalahan berikutnya adalah kembali terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain.
Padahal, menjaga lisan adalah salah satu latihan utama selama Ramadhan. Mengabaikannya dapat merusak kualitas spiritual yang telah dibangun.
- Memutus tali silaturahmi
Momentum lebaran identik dengan saling memaafkan dan mempererat hubungan. Namun setelah itu, sebagian orang kembali menjauh dari keluarga dan kerabat.
Padahal, menjaga silaturahmi memiliki dampak besar, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sosial.

- Gaya hidup konsumtif
Pasca Lebaran sering diwarnai dengan perilaku konsumtif, seperti berbelanja berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam penggunaan harta, sehingga sikap boros perlu dihindari.
- Lalai menjaga aurat dan akhlak
Selama Ramadhan, banyak orang lebih menjaga diri, baik dari segi penampilan maupun perilaku. Namun setelahnya, tidak sedikit yang kembali longgar dalam hal tersebut.
Padahal, menjaga aurat dan akhlak merupakan bagian penting dari keimanan.
Wallahu alam bish shawab
[]