ARASYNEWS.COM, PEKANBARU – Global Elephant Day 2025 atau hari gajah sedunia yang setiap tahun diperingati pada 12 Agustus, berbagai kegiatan dilakukan sebagai upaya memberikan perlindungan terhadap satwa gajah.
Di kota Pekanbaru Riau, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) bersama Nonblok Ekosistem, Sikukeluang, Heal Indonesia, Akar Ilalang, Arasati Hakiki dan Semacam Lab, menggelar Majelis Gajah, sebuah ruang dialog terbuka lintas sektor terkait gajah dengan mengusung tema besar nasional “Gajah Harga Diri Sumatera”, di Rumah Nonblok Ekosistem, Pekanbaru, Selasa (12/8/2025) malam.
Dalam forum, acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter “pulang” produksi FKGI, yang berisi tentang konflik gajah-manusia, tentang gajah yang kehilangan rumahnya dan tak tahu kemana arah pulang.
Juga berisi pembacaan puisi oleh Riang Gembira, bocah berusia enam tahun dengan puisinya berjudul Pusat Perhatian Gajah yang menceritakan tentang anak gajah Togar. Puisi tersebut mengalir menceritakan kisah seekor anak gajah bernama Togar yang kakinya pernah terluka parah akibat jerat buatan manusia. Togar kemudian ditinggal sendirian oleh ibu dan keluarganya yang ketakutan, hingga akhirnya Togar diselamatkan dan mendapatkan perhatian khusus di Pusat Latihan Gajah Minas. Kini, Togar telah sembuh dan tumbuh menjadi anak gajah yang kuat.
Majelis Gajah di Pekanbaru turut memadukan seni dan data lapangan. Pesan utamanya berisi tentang menyelamatkan gajah adalah menyelamatkan identitas ekologis Sumatera.
Adapun film ini mengajak penonton menyelami kenyataan pahit di lapangan, bahwa alih fungsi hutan memaksa gajah keluar dari jalur jelajahnya.
Dalam forum diskusi, Yuliantoni dari FKGI memaparkan gajah sebagai barometer ekosistem dan membeberkan fakta-fakta kondisi gajah di Riau, khususnya di kantong habitat Tesso Nilo. Ia menjelaskan bahwa Tesso Nilo adalah salah satu kantong gajah terpenting di Sumatera, namun tekanannya sangat tinggi akibat perambahan hutan dan konflik dengan manusia.
Sementara itu, yang juga turut hadir, AKBP Nasruddin, dari Kepolisian Daerah Riau, mengungkap bahwa masifnya perambahan hutan menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
“Tahun 2025 saja, ada 48 kasus pembukaan lahan di kawasan hutan di Riau. Ini jelas mengancam habitat gajah. Diperlukan sinergi antara kepolisian, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan sebagai rumah gajah, sehingga gajah dan manusia dapat hidup berdampingan tanpa ada pihak yang dirugikan,” dalam keterangan AKBP Nasruddin.
Masih dalam forum diskusi, Ujang Holisudin, dari Balai Besar KSDA Riau juga menyampaikan tentang pentingnya membangun narasi publik yang positif. Bahwa gajah bukanlah hama.
“Kerja-kerja konservasi itu punya tantangannya sendiri. Pernah suatu kali saat kami hendak mengembalikan gajah ke habitatnya, justru kami dihadang masyarakat,” diterangkan Nasruddin.
Sementara itu, dari perspektif seni dan budaya, Adhari Donora seniman Nonblok Ekosistem, memberikan penafsiran bahwa gajah sebagai simbol kekuatan, kesunyian, dan keteguhan. Ia memandang seni sebagai sarana untuk merawat memori kolektif dan menumbuhkan harapan ekologis.
“Seni bisa menjadi narasi perlawanan yang membentuk kesadaran publik. Gajah dalam karya seni bukan sekadar objek, tetapi subjek yang membawa pesan kehidupan,” ungkap Adhari Donora.
Selanjutnya, Ibnu Shem menutup rangkaian dengan membawakan lagu tentang gajah yang mati diracun, dengan sepenggal lirik yang menohok: “Membunuhku memperburuk lingkunganmu, meracuniku tak memperindah kebunmu.”
Ia menerangkan tema pada hari Gajah Sedunia untuk di Riau ini yakni: Gajah Harga Diri Sumatera
“Tahun ini, peringatan Hari Gajah Sedunia di Indonesia mengusung tema “Gajah Harga Diri Sumatera”. Tema ini menegaskan bahwa jika gajah terlindungi, maka kehormatan Sumatera sebagai pulau kaya biodiversitas pun terjaga. Sebaliknya, kematian gajah adalah cermin kegagalan kolektif menjaga identitas ekologis pulau ini,” dikutip dari keterangan Ibnu Shem.
Selanjutnya, Ketua FKGI, Donny Gunaryadi, menyampaikan bahwa populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini diperkirakan tidak lebih dari 1.000 ekor di alam liar, dengan status Critically Endangered. Dalam satu generasi gajah (50–75 tahun), sekitar 70% habitat potensialnya hilang akibat alih fungsi hutan, pembangunan, dan perburuan.
Donny mengapresiasi langkah pemerintah seperti pengembalian 81.000 hektare kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh untuk habitat gajah.
Namun, dikatakan Donny, upaya ini harus terus dikawal karena konservasi gajah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, media, hingga generasi muda.
Melalui Majelis Gajah di Pekanbaru, para forum penyelenggara berharap momentum Global Elephant Day menjadi ruang dialog hangat dan membumi, membangun narasi kolektif bahwa melindungi gajah berarti menjaga masa depan manusia itu sendiri.
(Rls)