Balita Ditemukan Tim Pasca Banjir Bandang, Kedua Orang Tua dan Keluarganya Meninggal

ARASYNEWS.COM – Dalam proses pencarian korban banjir bandang dan longsor yang melanda kabupaten Agam, tim menemukan seorang balita yang masih bernyawa meski ditutupi lumpur pada tubuh mungilnya.

Seorang balita ditemukan sekitar 3 kilometer dari rumahnya di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Agam, Sumatera Barat yang dihantam banjir bandang.

Saat ditemukan, tubuhnya dipenuhi lumpur dan tersangkut di sebuah pohon, ditemukan oleh warga dalam keadaan menangis, tertidur, tertelungkup di atas jerami padi tepat dibawah pohon pada Jum’at pagi.

Tubuh mungil ini seperti dilindungi Allah SWT saat terseret banjir bandang. Balita itu bernama Fathan ditemukan tim SAR dan regu penolong pada Jum’at (28/11/2025) pagi setelah Kamis sore terseret banjir bandang yang meluluh lantahkan desanya.

“Malam setelah banjir bandang, saat evakuasi darurat berlangsung di tengah kegelapan dan sisa-sisa reruntuhan, Fathan ditemukan dalam kondisi yang benar-benar ajaib, tersangkut di sebuah pohon yang kokoh berdiri,” kata Ahmad Fauzi, Wali Nagari Selaras Air Timur, Rabu (3/12/2025)

“Dia adalah satu-satunya yang selamat dari keluarganya,” kata dia.

Ahmad Fauzi, mengonfirmasi bahwa seluruh anggota keluarga Fathan, selain dirinya sendiri, tidak ada yang selamat.

“Keluarga Fathan tinggal di tepi Sungai Selaras, salah satu dari lima hingga enam rumah yang berjejer di pinggiran sungai, dekat jembatan penghubung desa,” ungkap Fauzi.

Pada jelang Maghrib itu, dikatakannya, air bah datang, rumah mereka habis tersapu. Bayi malang ini tinggal bersama ibu, ayah, nenek, om, tante, dan kakaknya, total tujuh orang.

Banjir bandang atau galodo ini melanda Desa Salareh Aia (Selaras Air) Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, pada Kamis (27/11/2025) petang.

Banyak rumah di pemukiman itu yang hanyut dan tertimbun. Rumah-rumah itu berada di bantaran aliran sungai.

Tentang penyelamatan dan penemuan ini menjadi momen yang sangat mengharukan dan memberi secercah harapan di tengah keputusasaan.

‘Bayi Titipan Tuhan’, begitulah ia dijuluki, karena keberhasilannya lolos dari maut yang melanda secara tiba-tiba.

Diketahui, ayahnya sempat dilarikan ke RSUD Lubuk Basung, namun nyawanya tak tertolong dan menghembuskan napas terakhir pada Jumat (28/11/2025). Dan nasib serupa dialami pamannya, yang juga sempat dibawa ke rumah sakit bersamaan dengan Fathan, namun, ia pun tak tertolong.

Kini Fathan sebagai seorang yatim piatu, harus melanjutkan hidup tanpa sosok keluarga. Saat ini, Fathan berada dalam perawatan, menjadi tumpuan kasih sayang bagi warga yang selamat.

Komunitas Desa Selaras Aia Timur, dikatakan Fauzi, kini mengemban tugas kolektif untuk memastikan Fathan mendapatkan kehidupan yang layak, menggantikan keluarga yang telah direnggut oleh air bah.

Fauzi juga mengungkapkan, masih ada warganya yang belum ditemukan.
“Laporan dari masyarakat menunjukkan masih ada korban lain yang tertimbun longsoran dan lumpur,” kata Fauzi.

Sementara itu, kata dia, proses evakuasi terhambat oleh keterbatasan alat berat. Alat yang ada saat ini dianggap belum cukup untuk melakukan pencarian dan penggalian secara maksimal di area bencana yang luas dan sulit dijangkau.

Fauzi mengungkapkan, bahwa musibah banjir bandang yang membuat aliran air sungai meluap baru kali ini terjadi. Hampir seluruh bangunan tertimbun lumpur dan ada juga yang tidak meninggalkan bekas.

Peristiwa galodo di Selaras Aia Timur memberikan pelajaran yang sangat berharga mengenai pentingnya mitigasi bencana dan pemahaman risiko geografis dan juga menjaga lingkungan alam.

[]

You May Also Like