ARASYNEWS.COM – Peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi bermakna bagi umat Islam, dititipkan untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu kepada Baginda Nabi Muhammad untuk dilaksanakan kaum muslimin muslimah. Dan juga banyak makna lainnya dalam perjalanan yang dilalui Baginda Nabi.
Akan tetapi, ada dua kisah sedih dibalik itu yang dialami Baginda Nabi Muhammad yang terjadi pada tanggal 27 Rajab.
Untuk tahun ini, bertepatan dengan hari Jum’at, 16 Januari 2026.
Dari tausiyah Jum’at, diceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj Baginda Nabi Muhammad menyisakan kisah sedih yang mendalam, yang dikenal sebagai Amul Huzni atau tahun-tahun kesedihan.
Amul Huzni sangat berkaitan erat dengan peristiwa Isra’ MI’raj. Pada tahun itu, hati Baginda Nabi merasa sangat sedih yang mendalam.
“Salah satu yang membuat Nabi Muhammad begitu sedih lantaran beliau ditinggalkan oleh dua orang yang begitu beliau dikasihi. Dua orang yang selama ini menjadi penjaga bagi Nabi Muhammad, yakni istri beliau Sayyidah Khadijah dan pamannya Abu Thalib wafat,” kata Kiai Zakky dalam tulisannya yang berjudul Hari-hari Penuh Duka Menjelang Isra’ Mi’raj.
Kesedihan juga meliputi karena banyak tekanan dari orang-orang Quraisy. Hampir setiap hari Nabi mendapat pertentangan dan penghinaan dari kaum Quraisy. Serta juga pernah dilempari dengan tanah yang kotor dan mengenai seluruh pakaian Beliau.
Hal itu juga disaksikan putri tercinta Nabi, Sayyidah Fatimah, sehingga membuat hati Fatimah pilu dan merasakan kesedihan mendalam.
Melihat reaksi putri tercintanya, Baginda Nabi bersikap sangat bijak sembari berkata: “Jangan menangis anakku, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.”
Selain itu, kesedihan lainnya didapati saat melakukan perjalanan dakwah ke Thaif, berharap penduduk di sana mau menerima dakwahnya. Namun malahan sebaliknya, penduduk Thaif enggan menerima dakwah dari Nabi Muhammad.
Penduduk Thaif menolak dengan cara kasar, mengusir Nabi dengan melempari batu yang membuat luka pada kaki Nabi sampai mengucurkan darah hingga melekat di sandalnya karena darah yang mengering.
Akan tetapi, Nabi tidak marah ataupun membalas, tapi justru berdoa: “Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui”.
Pada salah satu bukit, dibawah pohon, Baginda menengadahkan tangan ke langit dan berdoa pengaduan yang sangat mengharukan.
Berikut doa Nabi Muhammad:
“Wahai Allah Tuhanku, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan diriku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku dihadapan sesama manusia. Wahai Allah Yang Maha Kasih dari segala kasih, Engkau adalah pelindung orang-orang yang lemah dan teraniaya. Engkau adalah pelindungku. Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku. Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. Rahmat dan karunia-Mu lebih luas bagiku, aku berlindung dengan cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan, yang karenanya membawa kebahagiaan bagi dunia dan akhirat, daripada murka-Mu yang akan Kau timpakan kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku sehingga Engkau meridhaiku. tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu.” (Dikutip dari buku: Muhammad Husen Haikal, Hayatu Muhammad, halaman 187).
Dan karena itu, Allah memberikan hadiah berupa peristiwa Isra’ Mi’raj. Perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, dengan jarak tempuh 500 kilometer, lalu dilanjutkan menuju ke langit 1-7 bertemu nabi-nabi sebelumnya dan lanjut ke Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah.
Baginda mendapat perintah untuk melaksanakan ibadah sholat.
Peristiwa ini menjadi momen penting pemberian hadiah shalat sebagai bentuk tasliyah (hiburan) bagi Nabi setelah kesedihan.
Perintah utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah shalat lima waktu, yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT saat Mi’raj ke langit ketujuh, dan menjadi ibadah wajib utama bagi seluruh umat Islam.
Shalat menjadi sarana mengingat Allah, mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Allah, mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta menjadi amalan pertama yang dihisab di akhirat.
Perjalanan yang dilakukan ditemani Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq, hanya dalam waktu semalam.
Perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa merupakan bagian dari perjalanan untuk menghibur Nabi atas kesedihan yang telah dialaminya.
Ujian pasca Isra’ Mi’raj
Pasca perjalanan dalam waktu semalam itu, sangat sulit diterima akal dan logika.
Berita isra Mi’raj menyebar luas logika manusia abad itu banyak yang menolak: “mana mungkin perjalanan sebulan ditempuh dalam waktu semalam?”
Pagi itu, iman mereka terguncang. Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan nabi tapi juga tentang ujian logika yang membuat banyak orang berbalik arah. Bagaimana iman para sahabat bertahan saat akal tak mampu menerima.
Banyak orang yang imannya lemah memilih murtad pada hari itu. Mereka tak kuasa menahan ejekan dan benturan logika. Mereka melepas Islam, kembali kekafiran karena menganggap nabi telah kehilangan kewarasannya.
Salah satu yang menentang adalah Abu Jahal. Namun pembelaan datang dari Abu Bakar: “jika Muhammad yang mengatakannya maka itu benar. Aku mempercayainya untuk urusan wahyu dari langit. Lantas mengapa aku harus ragu untuk urusan perjalanan di bumi?”
Abu Bakar mengajarkan kita bahwa iman itu letaknya di atas logika. Bukan berarti Islam tidak logis tapi akal manusia yang terbatas seringkali tak mampu menjangkau kebesaran Allah yang tak terbatas.
Hari itu Abu bakar menyelamatkan aqidah umat, dan hari itu pula ia dianugerahi gelar As-Siddiq sang pembenar. Ia mendapat gelar ini atas kepercayaan tanpa syarat di saat semua orang ingkar.
Tak lama kemudian bukti nyata datang Nabi mampu menggambarkan detail pintu dan tiang Masjidil Aqsa dengan presisi, seolah melihatnya langsung. Nabi juga memprediksi kedatangan kafilah dagang dengan tepat.
Mereka yang kafir dan murtad terdiam, logika mereka runtuh.
Peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan kita bahwa akal punya batas tapi iman menembus batas.
[]