Cerita Mistis Dibalik Sungai Siak yang Membelah Kota Pekanbaru

ARASYNEWS.COM, PEKANBARU – Sungai Siak menjadi salah satu ikon di kota Pekanbaru. Dibalik tenangnya sungai ini, ternyata mengandung berbagai cerita yang tersembunyi yang cukup menegangkan.

Sungai Siak ini merupakan salah satu sungai terdalam yang ditetapkan pemerintah. Untuk ukuran kedalamannya, pernah disebutkan sedalam 20-30 meter. Akan tetapi belum diketahui pasti berapa ukuran sebenarnya kedalaman sungai yang membelah kota Pekanbaru ini.

Sungai Siak, pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sungai Jantan. Aliran sungai ini membentang dari Selat Bengkalis di Kabupaten Bengkalis hingga ke Tapung Kabupaten Kampar.

Sungai Siak menjadi urat nadi bagi masyarakat Kota Pekanbaru serta Kabupaten Siak. Dulunya, kapal-kapal pedagang dari Malaysia dan Singapura hilir mudik untuk mengangkut dagangan. Bahkan dulu pernah sebagai pelabuhan untuk diberangkatkannya jemaah haji dalam menunaikan ibadah ke tanah suci Mekkah dengan menggunakan kapal.

Sejak dahulu, banyak ekosistem kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Seperti penampakan ikan yang mirip dengan lumba-lumba yang kerap menemani para jemaah haji yang akan berangkat. Ikan ini juga dikenal dengan ikan pesut.

Banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang kehidupan yang ada pada sungai sini. Cerita-cerita yang berbembang di masyarakat tersebut memiliki versinya dan ragamnya tersendiri bagi tumbuh kembang anak-anak dipinggiran sungai jantan.

Terkadang sebagai cerita pengantar tidur dari orang tua mereka, atau sebagai nasehat dan larangan yang seakan dipercayai hingga kini.

Sungai terdalam di Indonesia ini menyimpan cerita mistis di balik tenangnya arus di permukaan.

Dalam berbagai cerita yang dirangkum arasynewscom, ada mitos keberadaan buaya putih, ular bidai, ular naga, dan banyak lagi lainnya.

Cerita buaya putih adalah cerita tentang seekor buaya peliharaan Sultan Syarif Kasim II yang memegang kunci berangkas kerajaan Siak.

Sedangkan ular bidai adalah ular yang bersemedi di dalam sungai jantan, kepalanya terlepak di hulu sungai dan ekornya di hilir sungai, ia akan keluar dari sungai jantan ketika Malaikat Isrofil meniup sangkakala.

Dan cerita tentang seekor naga, dimana cerita ini berkembang ketika air sungai meluap atau pasang dalam. Dahulu hiduplah sepasang suami istri, sang istri tengah hamil tua dan ia ingin sekali memakan daging kijang (hewan berkaki empat), karena permintaan sang istri yang sedang hamil tua maka pergilah suaminya berburu ke dalam hutan.

Tiga hari sang suami di dalam hutan dan tak ada satu ekorpun kijang didapatnya, ia tak ingin pulang dengan tangan kosong karena takut mengecewakan istrinya. Sang istripun karena sangking inginnya memakan daging kijang hingga ia menunggu kepulangan suaminya di jenjang rumah.

Akhirnya pada hari ke tiga, sang suami melihat seekor kijang dan lansung memanahnya, setelah kijang didapat ia lansung membawa pulang dengan penuh kegembiraan. Setibanya di rumah, sang istri bahagia melihat suaminya pulang dengan membawa kijang tersebut, karena hasrat dan nafsu yang tidak terbendung lagi untuk memakan daging kijang itu, sang istripun lansung memakan daging kijang yang masih mentah itu.

Ternyata efek dari daging kijang yang mentah itu membuat tubuhnya panas, gerah dan kehausan sejadi-jadinya. Ia meminum air sampai bertong-tong, hingga pasokan air di rumahnya habis, hausnya pub belum hilang.

Kemudian, sang suami risau melihat keadaan istrinya, lalu membawa istrinya ke tepian sungai untuk melepaskan dahaga dan minum sepuasnya. Tidak lama setelah meminum air sungai, badan sang istri mulai bersisik, tumbuh ekor dan badannya menjadi besar, hingga daratan dan sungai pun tidak cukup untuknya tinggal. Sang suami sedih dan iba melihat istrinya, lalu ia merelakan istrinya pergi mengikuti sungai menuju lautan lepas. Tersebab seekor naga yang masuk ke sungai dan berjalan menuju lautan, maka air sungai menjadi meluap.

Cerita-cerita ini mulai dari adanya gajah putih yang selalu keluar dari perairan hingga sepasang buaya putih, ikan duyung, dan seekor naga yang juga pernah dikabarkan muncul ke permukaan dan akhirnya menghilang.

Terakhir penampakan hewan air buaya ini pernah terlihat sebanyak dua ekor yang muncul ke permukaan. Lokasinya tak jauh dari jembatan tapi warnanya tidak putih.

Sebagian warga percaya, sosok raja dan sepasang buaya putih itu punya hubungan dan bertugas menjaga Sungai Siak. Namun, cerita tetaplah cerita karena hingga kini belum ada dokumentasi terkait penampakannya.

Selain itu, kapal-kapal besar adalah ancaman nyata bagi masyarakat, ancaman di sini bukan berarti kapal-kapal tersebut akan memakan masyarakat di sekitar Sungai Siak. Satu kapal tanker saja yang melewati Sungai Siak adalah satu ancaman nyata. Seperti, ketika kapal tanker lewat dan berisi akan memiliki berat beratus bahkan beribu ton, tekanan yang dimiliki kapal ketika lewat akan menimbulkan efek hisap air yang sangat besar dan ketika berlalu air tersebut akan terlepas dengan seketika.

Bayangkan, jika ada nelayan yang sedang menjaring ikan ikut terseret ke dalan tekanan air tersebut atau karena tekanan air yang lepas dan akan menghempas sampan ke tebing.

Cerita lainnya sekitar tahun 2000an, tepatnya di Kecamatan Tualang, kapal tanker yang bermuatan minyak bocor dan terbakar menjadikan sungai jantan lautan minyak dipicu oleh api kebakaran kapal, maka sungai jantan menjadi lautan api. Belum lagi efek dari minyak yang membuat para ikan di sungai Siak mati. Banyak cerita masyarakat tentang kejadian di sungai yang menimpa mereka, seperti sampan ditabrak boat, sampan terbalik karena gelombang, jaringnya koyak karena gelombang, dan lainnya.

Banyak warga yang percaya bahwa hewan-hewan misterius itu adalah perwujudan dari makhluk halus yang mendiami Sungai Siak. Hanya saja dari sekian cerita itu, keberadaan sepasang buaya putih dan sosok disebut raja dipercaya masih hidup sampai sekarang.

Konon, sosok raja ini masih mendiami sebuah rumah di pinggir Sungai Siak, tepatnya di bawah jembatan Siak III. Rumah ini sampai sekarang masih terawat karena dijadikan cagar budaya oleh pemerintah setempat.

Penuturan warga sekitar, tidak ada yang berani mendiami rumah itu, bahkan penjaga yang diberikan kepercayaan untuk membuka jendela di sana setiap harinya. Sosok raja ini disebut pernah menampakkan diri kepada pekerja pemugaran rumah itu berpenampilan raja-raja melayu.

Sedangkan jembatan Siak 1 yang dibangun ini, ternyata pernah juga terdengar cerita ada kepala tengkorak anak-anak yang menyangga berdirinya jembatan ini.

Dan hal itulah yang membuat banyak orang tua cemas saat anak-anaknya keluar rumah, terutama saat menjelang magrib. Karena para orang tua takut anaknya hilang dan dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan. []

You May Also Like