ARASYNEWS.COM – Baru-baru ini ditemukan hasil inovasi yang dapat menyulap air menjadi bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Inovasi ini mendapat banyak perhatian.
Alat yang bernama Nirkuba ini adalah temuan warga Cirebon Jawa Barat bernama Aryanto Misel. Hanya saja temuan ini dikatakan dapat merusak.
Nikuba adalah singkatan dari ‘Niku Banyu’ atau ‘Ini Air’. Nikuba disebut-sebut mampu mengkonversi air menjadi hidrogen untuk bahan bakar kendaraan bermotor motor. Dia pun mengklaim satu liter air bisa digunakan menempuh perjalanan pergi-pulang jarak Cirebon-Semarang atau sekitar 254 kilometer.
“Pernah dites di motor matic. Untuk perjalanan dari Cirebon ke Semarang, pulang pergi hanya butuh kurang dari satu liter air,” kata Aryanto.
“Kalau kita bicara Nikuba, ini bukan sebagai penghemat BBM lagi, tapi full ini 100 persen dari air,” sebut dia.
Adapun untuk pola kerjanya, Aryanto menjelaskan Nirkuba bisa mengkonversi atau mengubah air menjadi bahan bakar untuk kendaraan bermotor, khususnya roda dua, dalam bentuk Hidrogen (H2).
Dari cara kerjanya, Aryanto menjelaskan, Nikuba memiliki fungsi untuk memisahkan antara hidrogen (H2) dan oksigen (O2) yang terkandung di dalam air (H2O) melalui proses elektrolisis. Adapun air yang digunakan adalah air yang sudah tidak memiliki kandungan logam berat.
Hidrogen yang telah dihasilkan melalui proses elektrolisis itulah yang kemudian dialirkan ke ruang pembakaran mesin kendaraan sebagai bahan bakar. Sementara oksigennya, menurut Aryanto, akan kembali dielektrolisis menjadi Hidrogen dan dialirkan lagi ke ruang pembakaran mesin.
“Untuk proses menghasilkan hidrogen, tetap dibutuhkan katalis. Karena jika tanpa katalis, air itu paling mendidih menjadi uap. Katalis yang saya gunakan ini, buatan saya sendiri, hasil jerih payah saya untuk menemukan katalis yang tidak ada di pasaran. Katalis yang saya buat ini organik,” kata Aryanto.
Banyak masyarakat di Indonesia yang mendukung agar temuannya ini mendapat pengembangan dan perhatian dari pemerintah di Indonesia.

Akan tetapi, hasil risetnya ini mendapat perhatian dan komentar banyak pakar. Salah satunya dari BRIN yang menilai Nikuba bukan alat yang bisa menggantikan konsumsi BBM pada sebuah kendaraan bermotor.
“Itu adalah HHO atau brown-gas yang digunakan untuk pembakaran, bukan pengganti BBM ya, tapi bisa untuk efisiensi BBM sekitar 3-20 persen,” tutur Eniya Listiani Dewi, profesor riset BRIN.
Menurut dia, proses elektrolisis dari Nikuba bukan proses elektrolisis murni yang mampu menghasilkan hidrogen. Nikuba buatan Aryanto, Eniya menjelaskan, hanya menghasilkan reaksi kimia dari stainless steel.
“Bukan proses elektrolisa murni menghasilkan gas hidrogen. Alat tersebut semacam reaksi kimia, yang menggunakan stainless steel sebagai elektroda dan sebagai elektrolit adalah NaOH (soda) atau KOH atau NaCl, yang paling banyak dipakai adalah NaOH,” terangnya.
Meski sepeda motor tersemat Nikuba, Eniya menegaskan, kendaraan masih tetap menggunakan atau membutuhkan BBM.
“Kalau prediksi kita kan dimasukkan ke ruang pembakaran dan menyempurnakan piston di sepeda motor itu. Dari situ intinya bahwa BBM masih dipakai, jadi bukan pengganti BBM. Tetapi dia menyempurnakan pembakaran di ruang bakarnya, nah itu yang bisa saya jelaskan soal temuan itu,” ujar Eniya.
Tri Yuswidjajanto, pakar dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB telah melakukan perhitungan secara detail atas temuan alat Nikuba.
Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menyebutkan teknologi pengubah air menjadi hidrogen untuk bahan bakar kendaraan bermotor sejatinya merupakan teknologi lama.
“Itu (teknologi) sudah lama banget. Coba lihat saja di (situs jual beli) Tokopedia, tulis ‘Joko Energy’, keluar semua alatnya itu. Jadi yang ngembangin udah banyak. Termasuk (tutorialnya) di Youtube, juga udah banyak banget,” kata dia.
Yus mengungkapkan teknologi seperti itu sudah dikembangkan sejak 1960-an, karena sudah banyak orang yang mengenal konsep elektrolisa air. Sekadar diketahui, elektrolisa air merupakan penguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen (H2) dengan menggunakan arus listrik yang melalui air tersebut.
“Dan sebetulnya kalau dibilang (teknologi ini) menggantikan bensin, ya nggak juga. Karena nggak bisa, nggak akan cukup,” katanya.
Dari hasil hitungan tersebut, dikatakan dia, sulit dibuktikan bahwa Nikuba mampu memberi energi untuk perjalanan bahkan sampai puluhan kilometer.
“H2O tidak dapat menggantikan bensin karena produksi H2O terbatas oleh pasokan listrik dari accu (aki),” ujar Yudwidjajanto dalam webminar, Rabu (25/5/2022 lalu.
Apalagi, lanjutnya, kemampuan maksimal dari aki hanya bisa memproduksi 0,7 persen energi yang diperlukan motor. Sementara itu, jika produksi H2O ditingkatkan, maka aki akan tekor. Sehingga motor akan mogok karena tidak ada pasokan listrik ke busi. Disebutkan pula olehnya, H2O hanya dapat berfungsi sebagai suplemen. Dan andil terhadap efisiensi kemungkinan akan rendah.
“Apalagi adanya produk reaksi berupa H2O dan adanya uap air yang terikut, diam, dapat memunculkan bahaya korosi pada komponen ruang bakar,” katanya.
Kemudian terbentuknya emulsi minyak lumas yang akan meningkatkan laju keausan komponen transmisi daya.
Dia menjelaskan untuk bisa menggunakan air sebagai bahan bakar pengganti tidak hanya dibutuhkan aki, tapi tetap membutuhkan bensin. Jika memakai air saja untuk proses ini, hal itu tidak akan cukup.
“Lama-lama aki bisa tekor karena secara keseimbangan energi tidak cukup. Lebih besar untuk memproduksi dari pada yang berguna. Jadi tak hanya butuh aki, tapi juga tetap butuh bensin,” ucap Yus menegaskan.
Yuswidjajanto pun mengungkapkan perlu dilakukan penelitian lengkap jangka panjang minimal tiga kali periode ganti minyak lumas, sebelum menggunakan Nikuba.
“Tapi dalam hal ini saya sangat ingin mengajak diskusi penemu Nikuba untuk sama-sama menghitung, sehingga bisa disampaikan kepada masyarakat,” tandasnya. []